Hal ini kemudian memicu respons risk-off di pasar keuangan Asia sebagai negara yang mengandalkan ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah. Yen Jepang tadi pagi sempat menguat, kini apresiasinya tinggal 0,09%. Kemudian dolar Singapura masih menguat terbatas 0,03%.
Sebaliknya, lebih banyak mata uang Asia yang bergerak melemah seperti baht Thailand tergerus 1%, dolar Taiwan melemah 0,18%, peso Filipina 0,13% dan won Korea Selatan melemah 0,08%, ringgit Malaysia 0,06%, dan yuan offshore 0,03%.
Sementara, tekanan terhadap rupiah datang dari sisi domestik. Investor masih mencermati potensi pelebaran defisit anggaran, termasuk risiko penurunan peringkat utang, sehingga tingkat kepercayaan terhadap aset domestik belum sepenuhnya pulih.
Di sisi lain, daya tarik investasi pada aset rupiah juga sedikit menurun setelah Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga sebanyak lima kali sepanjang 2025 dengan total penurunan mencapai 125 basis poin. Ketika selisih suku bunga dengan negara lain semakin menyempit, minat investor asing untuk menempatkan dananya di Indonesia juga berpotensi berkurang.
Pekan depan BI akan mengumumkan tingkat suku bunga. BI kemungkinan akan mempertahankan suku bunga acuan di 4,75% untuk menjaga selisih suku bunga untuk menopang rupiah. Volatilitas rupiah yang cenderung tinggi ditambah inflasi yang belum cukup jinak sepertinya masih akan menjadi pertimbangan utama BI.
(dsp/aji)






























