Logo Bloomberg Technoz

“Sementara itu, yuan China dan ringgit Malaysia relatif lebih berdaya tahan,” tulis riset tersebut.

Laporan MUFG menilai setiap kenaikan minyak US$ 10/barel dapat mempengaruhi transaksi berjalan (current account) negara-negara Asia sekitar 0,2-0,9% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Dampak yang lebih besar dari sisi transaksi berjalan diperkirakan akan dialami oleh Thailand, Singapura, Taiwan dan India. 

Akan tetapi, negara seperti Indonesia, dan Malaysia, yang negaranya memiliki perusahaan minyak kemungkinan akan menanggung sebagian kenaikan harga energi setidaknya pada tahap awal, sehingga dampak inflasi domestik lebih terbatas.

Sumber: MUFG

Peluang Indonesia

Ekonomi Indonesia memang sepertinya memiliki karakteristik yang bisa membuatnya bertahan. Indonesia memiliki modal besar, yaitu potensi pasar domestik yang luar biasa.

Pada 2025, Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,11%. Ini menjadi pencapaian tinggi dalam tiga tahun terakhir.

Konsumsi rumah tangga jadi penyumbang utama pembentukan PDB dengan kontribusi 53,88%. Di Asia, tidak banyak yang punya kekuatan seperti itu.

Mengutip catatan Bank Pembangunan Asia (ADB), porsi konsumsi rumah tangga di China pada 2024 adalah 37,8%, Kemudian di Korea Selatan 47% dan Singapura 28%.

Dalam kondisi pasar keuangan global yang sangat menantang, akan sangat sulit untuk mengandalkan investasi dan ekspor sebagai penopang pertumbuhan ekonomi. Untungnya Indonesia punya kekuatan domestik yang sangat mumpuni untuk menutup jika sampai ada lubang di sisi ekspor dan investasi.

Spesifik untuk Timur Tengah, Indonesia tidak memiliki ketergantungan impor yang besar dari kawasan tersebut. Porsi impor energi dari Timur Tengah hanya sekitar 10-20% dari total impor energi nasional. 

Sementara di Jepang, porsi impor minyak dari Timur Tengah mencapai 90-95%. Di Filipina pun sangat tinggi, mencapai 96%. Bahkan di China, impor minyak mentah dari Arab Saudi saja mencapai 42%.

(red)

No more pages