Kenaikan ketiga indikator ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden masih merasa kondisi ekonomi yang relatif stabil, seperti adanya pendapatan, tersedianya pekerjaan, serta adanya kemampuan membeli barang tahan lama.
Indeks tertinggi hanya dicatatkan oleh kelompok usia 20-30 tahun dan dengan pengeluaran di atas Rp5 juta, baik dalam keyakinan konsumen maupun persepsi penghasilan. Hal ini menunjukkan kelompok usia produktif yang lebih muda menjadi kelompok yang paling optimis terhadap kondisi ekonomi saat ini.
Laporan ini menggambarkan optimisme ekonomi hanya berasal dari kelas menengah atas dan generasi muda urban. Sementara kelompok lain menunjukkan optimisme yang lebih rendah, bahkan mendekati netral. Hal ini menggambarkan bahwa optimisme ekonomi tidak merata.
Konsumen Penuh Kehati-hatian
Walaupun optimisme masih kuat, ekspektasi terhadap masa depan mulai sedikit melemah. Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) enam bulan mendatang dibandingkan dengan kondisi saat ini, justru tercatat turun menjadi 134,4 dari 138,8 pada Januari.
Penurunan ini terjadi pada hampir semua komponen ekspektasi.
- Ekspektasi Penghasilan (IEP) turun dari 146 menjadi 140
- Ekspektasi Ketersediaan Lapangan Kerja turun menjadi 131,7 dari 135,1
- Ekspektasi Kegiatan Usaha turun menjadi 130,9 dari 135,3
Memang, semua komponen ini masih berada di zona optimis. Akan tetapi penurunannya bisa jadi indikasi bahwa masyarakat mulai sadar bahwa ada potensi ekonomi risiko di depan.
Penurunan ekspektasi ini bukan tanpa sebab. Pada periode yang sama, ekonomi global menghadapi berbagai tekanan, termasuk ketegangan geopolitik yang menyebabkan ketidakpastian global.
Di sisi lain, laporan ini juga mengungkap sikap konsumen rumah tangga yang terlihat mulai lebih banyak menabung daripada melakukan konsumsi. Pada Februari, proporsi konsumen terhadap pendapatan sebesar 71,6%, proporsi cicilan atau utang turun menjadi 10,6%, dan proporsi tabungan sebesar 17,7%
|
Komponen |
Januari |
Februari |
|
Konsumsi |
72,3% |
71,6% |
|
Cicilan |
11,2% |
10,6% |
|
Tabungan |
16,5% |
17,7% |
Sumber: Bank Indonesia
Konsumen menunjukkan pola precautionary saving, alias menabung sebagai bentuk pencegahan atas terjadinya situasi darurat yang mungkin terjadi. Fenomena ini biasanya muncul sebelum terjadinya perlambatan konsumsi, dan kenaikan inflasi.
Pola yang terjadi umumnya saat ekspektasi mulai turun dan konsumen menahan konsumsi dengan meningkatkan jumlah tabungan mereka. Hal ini kemudian berdampak pada perlambatan konsumsi PDB.
Penjualan Riil Melambat
BI juga merilis data Indeks Penjualan Riil (IPR) pada hari ini (10/3/3036). Kondisi penjualan riil memang mencatatkan pertumbuhan secara tahunan sebesar 5,7%, namun secara bulanan angka terkontraksi 2,7% turun dari periode bulan sebelumnya yang tumbuh 3,1%.
Pendorong penjualan datang dari kelompok barang budaya dan rekreasi yang tumbuh sebesar 15,9% secara tahunan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang tumbuh 8,1%, dan sandang 3,4%.
Sebaliknya, beberapa sektor justru menunjukkan kontraksi. Seperti peralatan informasi dan komunikasi terkontraksi cukup dalam sebesar 22,5%. Lemahnya penjualan pada kelompok ini menunjukkan daya beli tidak sepenuhnya kuat, dan mengindikasikan rumah tangga lebih selektif dalam berbelanja.
Selain itu kelompok lain juga tercatat berada di zona kontraksi seperti Suku Cadang dan Aksesori 3,8% secara bulanan, Makanan, Minuman dan Tembakau juga terkontraksi 2,5% secara bulanan, dan sub kelompok sandang terkontraksi 3%. Hal ini terjadi lantaran berakhirnya momentum musiman Natal dan Tahun Baru.
Laporan BI ini juga memproyeksikan ada Februari penjualan ritel diperkirakan naik menjadi 6,9% secara tahunan. Pendorong utamanya adalah faktor musiman seperti adanya bulan Ramadan, dan persiapan Idul Fitri.
Kedua hal ini mengindikasikan bahwa peningkatan konsumsi domestik semakin bergantung pada faktor musiman, bukan karena momentum ekonomi yang bersifat struktural.
Setelah musim Natal dan Tahun Baru berakhir, maka tingkat penjualan pun menurun. Begitu juga dengan adanya momentum musim Ramadan dan Idul Fitri membuat tingkat penjualan riil naik lagi.
Stimulus
Pemerintah telah mengalokasikan Rp55 triliun untuk Tunjangan Hari Raya (THR) tahun ini untuk aparatur sipil negara, aparat penegak hukum, dan pensiunan.
Selain itu, subsidi binus libur Lebaran bagi 850.000 pengemudi transportasi daring seperti Gojek dan Grab juga dinaikkan dua kali lipat dari Rp110 miliar pada tahun lalu. Setiap pengemudi diperkirakan mendapat THR sekitar Rp400.000.
Akan tetapi, di tengah kondisi inflasi dengan Indeks Harga Konsumen yang tercatat naik menjadi 4,76% secara tahunan pada Februari, dengan kenaikan harga pangan 3,51%, dan sektor perumahan dan utilitas melonjak 16,19% membuat stimulus ini seperti jauh panggang dari api.
Setelah momentum Idul Fitri berakhir, masyarakat masih akan merasakan kondisi serupa dengan tekanan ekonomi dan kondisi struktural yang belum banyak berubah. Khususnya bagi kelompok berpendapatan rendah yang akan merasakan dampak terbesar dengan menyusutnya daya beli.
Kondisi tersebut juga tergambar dari laporan IKK yang mencatat indeks ekspektasi konsumen di kelompok pengeluaran Rp1-2 juta terkontraksi sebesar 11,2 dari 133,2 menjadi 122. Pada kelompok ini juga terjadi penurunan Ekspektasi Penghasilan 14,3 menjadi 123,9 dari 138,2, dan Ekspektasi Ketersediaan Lapangan Kerja turun 12,9 menjadi 123,5 dari 136,4.
Secara keseluruhan, hasil survei konsumen pada Februari dan data penjualan Riil pada Januari menunjukkan kerapuhan optimisme dan ketidakmerataan kondisi ekonomi antar kelompok pengeluaran.
Kelompok dengan pengeluaran di atas Rp5 juta mencatat tingkat keyakinan tertinggi, sementara kelompok menengah bawah mengalami pergerakan yang lebih beragam dengan kecenderungan tingkat keyakinan yang terkikis.
(dsp/aji)



























