Logo Bloomberg Technoz

Pada perdagangan pagi ini, Selasa (10/3/2026), nilai kontrak rupiah offshore dibuka stagnan di Rp16.982/US$ lalu tak berselang lama sempat melemah 0,43% ke posisi Rp16.964/US$. Saat pasar Asia dibuka, rupiah offshore mendapat tenaga dengan kembali menguat ke posisi Rp16.898/US$. 

Nilai tukar mata uang Asia terhadap dolar AS pada Selasa 10/3/2026. (Bloomberg)

Sementara, indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama juga melemah 0,39% ke level 98,79. 

Pengamat pasar modal Reydi Octa menjelaskan pelemahan rupiah umumnya memberi tekanan pada emiten yang memiliki ketergantungan impor bahan baku atau utang dalam dolar AS karena dapat meningkatkan biaya produksi maupun beban keuangan.

Di sektor properti, emiten yang memiliki utang valas atau proyek dengan komponen impor tinggi biasanya lebih sensitif terhadap pelemahan rupiah. Investor umumnya mencermati emiten seperti Pakuwon Jati (PWON), Summarecon Agung (SMRA), dan Bumi Serpong Damai (BSDE).

“Jika rupiah terus melemah, tekanan bisa muncul dari sisi biaya konstruksi,” kata Reydi.

Sementara itu di sektor consumer goods, emiten yang memiliki ketergantungan bahan baku impor yang sering menjadi perhatian investor antara lain Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP), Indofood Sukses Makmur (INDF), dan Mayora Indah (MYOR).

Secara fundamental, sektor konsumsi memang memiliki keterkaitan cukup besar terhadap bahan baku impor.

Analis pasar modal Hendra Wardhana menilai pelemahan rupiah biasanya meningkatkan biaya impor bahan baku yang masih dihargai menggunakan dolar AS.

Menurutnya, sejumlah emiten konsumer seperti Unilever Indonesia (UNVR), Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP), dan Mayora Indah (MYOR) relatif lebih sensitif terhadap pergerakan nilai tukar karena bahan baku utama seperti gandum, susu, gula, hingga kemasan masih mengikuti harga global.

Ketika rupiah melemah, margin keuntungan perusahaan dapat tertekan jika emiten tidak dapat segera menyesuaikan harga jual di tengah daya beli masyarakat yang sedang melemah.

Tekanan terhadap dua sektor itu juga tercermin dari kinerja indeks sektoral di Bursa Efek Indonesia. Secara year to date (YtD), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat turun 14,54% atau kehilangan 1.257,42 poin ke posisi 7.389,52.

Penurunan lebih dalam terjadi pada sektor properti. Indeks IDXPROPERT tercatat melemah 19,29% YtD ke level 946,70. Sementara itu, indeks sektor konsumsi siklikal, IDXCYCLIC juga mengalami tekanan dengan koreksi 17,51% YtD ke level 1.011,65.

(fik/naw)

No more pages