Hari ini, harga Brent untuk pengiriman Mei naik 17% menjadi US$108,42/barel pada pukul 9 pagi di Singapura, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April naik 19% menjadi US$108,33/barel.
Kenaikan harga tersebut terjadi ditengah eksalasi konflik timur tengah. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan cadangan minyak mentah Indonesia saat ini hanya cukup untuk 25 hari.
Kelangkaan pasokan tersebut juga turut membuat pengusaha logistik khawatir, yang berpotensi mendorong kenaikan biaya logistik nasional hingga 100% apabila berlangsung lebih dari dua pekan.
"Kalau dia berkelanjutan lebih dari dua minggu, biaya logistik naik 50 sampai 100% dibandingkan [tarif di hari] normal," ujar Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Mahendra Rianto, belum lama ini.
Di sisi lain, Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO) Budiharjo Iduansjah mengeluhkan hambatan impor barang yang mulai dirasakan pelaku ritel menjelang periode belanja Ramadan dan Lebaran tahun ini.
Ketua Umum HIPPINDO, Budihardjo Iduansjah mengatakan keterlambatan pasokan dinilai berpotensi mengganggu momentum penjualan di pusat perbelanjaan. Sebagian barang yang dijual di mal masih bergantung pada impor, namun pengiriman saat ini mengalami keterlambatan.
"Namun untuk impor, kami menghadapi masalah. Barang-barang yang dibawa ke mal banyak yang impor dan agak telat, sehingga mungkin Lebaran ini kita agak terganggu untuk penjualannya," ujar Budiharjo.
(wep)






























