Perang dan AI Picu Defisit Dagang Terlebar Hong Kong sejak 1952
News
29 April 2026 19:00

Nectar Gan- Bloomberg News
Bloomberg, Hong Kong mencatat defisit perdagangan terlebar setidaknya dalam 74 tahun terakhir setelah impor melonjak tajam, yang diduga menjadi dampak lanjutan dari gangguan akibat perang di Timur Tengah dan gelombang investasi global pada kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang mendorong permintaan produk teknologi.
Data pemerintah pekan ini menunjukkan lonjakan ekspor dan impor pada Maret, dengan impor meningkat lebih dari 41% dibanding periode yang sama 2025, kenaikan terbesar dalam lebih dari tiga dekade. Kondisi itu membuat defisit perdagangan mencapai HK$89,1 miliar atau sekitar Rp196,7 triliun (dengan asumis HKD 1 sama dengan Rp2.204,6), tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 1952 ketika Hong Kong masih menjadi koloni Inggris.
Sebagai pusat transshipment, Hong Kong menjadi pintu masuk berbagai barang yang dikirim ke China daratan, yang mencatat lonjakan impor produk berteknologi tinggi pada Maret seiring perusahaan melakukan penimbunan pasokan. Hong Kong juga mengimpor hampir seluruh kebutuhan energinya dan masih bergantung pada bahan bakar fosil untuk pembangkit listrik, sehingga rentan terhadap guncangan harga minyak akibat perang Iran.
“Boom AI dan aksi penimbunan terkait perang mendorong impor,” kata ekonom Bloomberg Eric Zhu. “Kenaikan harga juga kemungkinan memperbesar nilai impor, karena harga chip AI, chip memori, dan komoditas terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir.”































