Hari ini, harga minyak mentah dunia akhirnya meroket melampaui angka US$100/barel, dipicu kebijakan sejumlah produsen utama Timur Tengah yang mulai memangkas produksi, hampir lumpuhnya jalur pelayaran di Selat Hormuz, serta ancaman Amerika Serikat (AS) untuk memperluas cakupan konflik yang kini telah mengguncang pasar energi global.
Cegah 'Kekacauan'
Dalam upaya untuk membuka pasokan dari kawasan tersebut, pemerintahan Trump telah meluncurkan rencana untuk memungkinkan US International Development Finance Corp (IDFC) menerapkan program reasuransi guna melindungi dari kerugian hingga sekitar US$20 miliar bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Bessent menyuarakan pandangan serupa dengan pejabat lain bahwa upaya AS untuk mengalahkan Iran akan membuahkan hasil. "Operasi kami sangat dominan," katanya. "Mereka berusaha menciptakan kekacauan ekonomi, dan saya rasa mereka tidak akan berhasil melakukannya."
Pada Jumat pagi, Presiden Donald Trump mendesak agar para pemimpin Iran "menyerah tanpa syarat" dan menyatakan AS akan terus menargetkan situs-situs di negara tersebut hingga rezim tersebut menyerah. Bessent mengatakan Jumat malam akan menjadi serangan "terbesar" sejak serangan dimulai akhir pekan lalu.
"Kami telah mempertimbangkan semua ini," katanya. "Ini ada dalam perhitungan presiden, dan segala sesuatunya berjalan sesuai rencana."
(bbn)




























