Perkembangan di Timur Tengah membuat investor menghindari aset-aset berisiko seperti saham. Perang yang melibatkan AS dan Israel versus Iran masih berlangsung, bahkan makin meluas.
Iran melancarkan serangan ke berbagai pangkalan militer AS di kawasan Teluk. Serangan dilaporkan terjadi di Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, dan Kuwait.
“Sekarang yang penting adalah apakah perang bakal berlangsung dalam hitungan hari, minggu, atau lebih lama lagi? Keengganan Iran untuk menyerah membuat tensi masih tinggi,” kata Marco Oviedo, Senior Strategist di XP Investimentos, seperti dinukil dari Bloomberg News.
Ketegangan di Timur Tengah membuat harga minyak melonjak. Kemarin, harga minyak jenis brent ditutup di US$ 85,41/barel. Melonjak 4,93% dari hari sebelumnya dan menjadi yang tertinggi sejak 1 Juli 2024 atau sekira 1,5 tahun terakhir.
Dalam sepekan terakhir, harga si emas hitam meroket hampir 20% secara point-to-point.
“Jika tekanan di pasar minyak terus terjadi dan berakibat pada perlambatan pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang meninggi, maka kita mungkin akan kembali melihat apa yang terjadi pada 2021-2023. Saat itu, saham dan obligasi mengalami aksi jual massal (sell off) secara berbarengan,” tegas catatan Morgan Stanley.
Sentimen Domestik
Sedangkan dari dalam negeri, pekan ini Fitch Ratings memutuskan untuk menurunkan outlook kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif. Langkah serupa sudah ditempuh Moody’s bulan lalu.
Keputusan revisi outlook kedua lembaga pemeringkat itu terjadi menyusul meningkatnya ketidakpastian kebijakan serta lemahnya konsistensi dan kredibilitas bauran kebijakan ekonomi Indonesia, terutama di tengah kecenderungan sentralisasi pengambilan keputusan.
Dalam pandangan Fitch, dinamika tersebut berpotensi melemahkan prospek fiskal jangka menengah, menekan sentimen investor, dan meningkatkan tekanan terhadap cadangan eksternal Indonesia.
Senada, Moody's juga menilai pelemahan tata kelola dan risiko fiskal yang cenderung meningkat termasuk defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang mencapai 2,9% terhadap PDB jadi faktor utama pemangkasan outlook kredit tersebut.
Dalam pandangan Fitch, dinamika tersebut berpotensi melemahkan prospek fiskal jangka menengah, menekan sentimen investor, dan meningkatkan tekanan terhadap cadangan eksternal RI.
Senada, Moody's juga menilai pelemahan tata kelola dan risiko fiskal yang cenderung meningkat termasuk defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang mencapai 2,9% terhadap PDB jadi faktor utama pemangkasan outlook kredit tersebut.
Moody's menyoroti soal tata kelola, kebijakan, dan risiko institusional, dengan kondisi kebijakan pemerintah semakin sulit ditebak. Lemahnya koordinasi antara kebijakan serta lemahnya konsistensi komunikasi ke pasar menjadi hal yang digarisbawahi oleh Moody's.
- Dengan Asistensi Dian SP -
(aji)






























