Logo Bloomberg Technoz

IMF saat ini terus memantau konflik di Timur Tengah secara ketat. Temuan tersebut akan dimasukkan ke dalam laporan World Economic Outlook yang dijadwalkan terbit pada bulan April mendatang.

Sebagai catatan, pada Januari lalu IMF sempat merevisi sedikit ke atas proyeksi pertumbuhan global menjadi 3,3% untuk tahun 2026 dan 3,2% untuk tahun depan.

Bos IMF tersebut memberikan pujian kepada Asia atas keberhasilannya membangun kembali institusi, cadangan eksternal, dan kredibilitas di mata investor setelah krisis keuangan 1997-1998. Namun, Georgieva mengingatkan agar kawasan ini tetap bersiap menghadapi dunia dengan "guncangan berulang," termasuk disrupsi teknologi, perdagangan, hingga geopolitik.

Ia mendesak negara-negara Asia untuk memperkuat konektivitas internal guna membentengi diri dari ketidakpastian perdagangan global. Integrasi kawasan dapat dipercepat dengan menurunkan hambatan non-tarif.

"Tidak ada gunanya meratapi apa yang terjadi di luar kewenangan Anda," tegasnya. "Fokuslah pada apa yang ada di tangan Anda, pada apa yang bisa Anda lakukan untuk membawa negara dan ekonomi Anda ke bentuk terbaik dalam menghadapi dunia yang telah kita masuki ini."

Sejauh ini, perang Timur Tengah telah memukul pasar global. Dampak terberat dirasakan oleh indeks saham berbasis teknologi di Korea Selatan (Korsel) dan Taiwan, di mana investor asing telah melepas saham senilai miliaran dolar.

"Semakin cepat kita melihat akhir dari bencana ini, akan semakin baik bagi seluruh dunia," tutup Georgieva.

(bbn)

No more pages