Sepanjang tahun 2025, Pertamina Patra Niaga telah menanam lebih dari 22 ribu pohon. Penanaman dilakukan di sekitar unit operasi seperti Kilang Dumai, Sei Pakning, Plaju, Cilacap, Balikpapan, Balongan, dan Kasim.
Program serupa juga dijalankan oleh unit proyek dan anak perusahaan di sektor pengolahan. Di antaranya PT Trans Pacific Petrochemical Indotama, PT Petro Oxo Nusantara, PT Polytama, PT Kilang Pertamina Balikpapan, serta GRR Tuban.
Beragam Jenis Pohon dan Program Lingkungan
Jenis pohon yang ditanam cukup beragam dan disesuaikan dengan karakteristik wilayah. Mulai dari pohon buah seperti cempedak, durian, jambu air, jambu kristal, jeruk, kelengkeng, matoa, nangka mini, rambutan, hingga nangka.
Selain itu, perusahaan juga menanam pohon berbatang keras seperti meranti, trembesi, cendana, dan akasia. Tak ketinggalan, pohon mangrove ditanam sebagai pelindung pesisir untuk mencegah abrasi serta menyerap karbon.
Keberadaan pohon buah diharapkan memberi manfaat langsung bagi masyarakat sekitar. Hasil panen dapat dikonsumsi maupun dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan warga.
“Kami senang dan bangga bisa ikut serta dalam aksi penanaman pohon ini. Pohon-pohon tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penjaga keseimbangan ekologi, namun juga bermanfaat sebab buahnya bisa dikonsumsi oleh masyarakat,” ungkap Roberth.
Selain program penghijauan, Pertamina Patra Niaga juga menjalankan inisiatif pengelolaan sampah di sekitar wilayah kilang. Program ini telah berjalan di 58 lokasi di seluruh Indonesia.
Hampir 2.500 orang terlibat dalam kegiatan tersebut. Setiap tahunnya, program ini mampu mengumpulkan sekitar 4,7 ton sampah.
Dari jumlah tersebut, sekitar 2,3 ton dikelola dan dimanfaatkan kembali melalui proses daur ulang serta pengolahan organik. Langkah ini menjadi bagian dari upaya mengurangi timbulan sampah dan dampaknya terhadap lingkungan.
Perusahaan juga membina belasan bank sampah di sejumlah daerah. Program ini mendorong pengolahan sampah organik berkelanjutan yang menghasilkan produk turunan seperti pupuk kompos dan pakan ternak.
Inovasi lain dijalankan di Kilang Cilacap. Di lokasi tersebut, bank sampah diberdayakan untuk mengumpulkan limbah minyak jelantah atau Used Cooking Oil untuk diolah menjadi Pertamina Sustainable Aviation Fuel.
Bahan bakar tersebut merupakan alternatif ramah lingkungan bagi industri penerbangan. Inisiatif ini memperlihatkan integrasi antara pengelolaan limbah dan inovasi energi berkelanjutan.
Rangkaian program lingkungan yang dijalankan tidak hanya berdampak pada pengurangan volume sampah dan emisi. Program tersebut juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.
Melalui gerakan ini, masyarakat memperoleh manfaat ekonomi hingga puluhan juta rupiah setiap tahun. Hal ini menunjukkan bahwa keberlanjutan lingkungan dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi.
Roberth menegaskan bahwa program TJSL bidang lingkungan menjadi salah satu pilar penting dalam roadmap keberlanjutan perusahaan. Komitmen tersebut terus diperkuat melalui kolaborasi lintas unit dan anak usaha.
“Kami percaya bahwa keberlanjutan hanya bisa tercapai apabila bisnis tumbuh seiring dengan kepedulian terhadap lingkungan. Sebab menjaga lingkungan bukan hanya sekadar ikhtiar untuk merawat alam, tapi juga menjadi budaya kerja di PPN,” tutup Roberth.
Melalui berbagai inisiatif tersebut, Pertamina Patra Niaga menegaskan bahwa operasional kilang dan pelestarian lingkungan bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Keduanya dapat berjalan beriringan demi menciptakan nilai jangka panjang bagi perusahaan, masyarakat, dan bumi.
(tim)
































