“Kondisi “given” lebih memerlukan mitigasi risiko dibanding mengambil keuntungan saat ini. Untuk itu, segera potong besar-besaran belanja MBG, alutsista, batalkan impor pikap dan semacamnya,” kata Awalil saat dihubungi, Kamis (5/3/2026).
“Bank Indonesia diberi keleluasaan untuk menjaga stabilitas, bukan dipaksa untuk menopang fiskal. Otoritas mesti mengedepankan “sense of crisis” atas kondisi.”
Di sisi lain, dia juga menyoroti eskalasi yang terus memanas merupakan momentum perubahan mendasar kebijakan ekonomi. Peringatan sejumlah lembaga pemeringkat internasional seperti Fitch Ratings, Moody’s, MSCI, mengarah pada ketidakpastian kebijakan ekonomi Indonesia.
“Sorotan tertajam pada disiplin fiskal dan risiko kesulitan membayar kewajiban utang,” tuturnya.
Kondisi tersebut seharusnya membuat pemerintah segera mengefisienkan anggaran belanja. Daya tahan fiskal mesti diperkuat dengan mengurangi defisit. Menurutnya, dalam waktu ke depan, akan tidak mudah bagi Indonesia untuk mencari utang. Penerbitan SBN juga makin kesulitan mencari pembeli.
“Jika Bank Indonesia terlampau dipaksa untuk menyerap SBN dan terlampau sering operasi spot valas, maka daya tahan moneter Indonesia akan terancam. Risiko capital flight bukan lagi sekadar akibat profit taking temporer, melainkan didasari persepsi kondisi fiskal dan moneter yang buruk,” jelas dia.
Bagaimanapun, Awalil mengungkapkan dinamika ekonomi modern ditandai oleh pola transaksi dan transmisi yang makin dipengaruhi oleh persepsi dan ekspektasi. Hal itu dimungkinkan karena berbagai komoditas utama, seperti migas menjadi krusial di konflik saat ini serta didominasi oleh perdagangan future, bukan spot.
Perdagangan komoditas yang kompleks makin terhubung erat dengan pasar keuangan. Banyak aset yang diperdagangkan merupakan derivatif dari komoditas.
Di sisi lain, hubungan pasar barang dan pasar uang juga makin kompleks terkait mekanisme pembiayaan dan asuransi atau hedging. Sementara itu, uang yang beredar didominasi oleh lembaga keuangan nonbank (LKNB), seperti investment fund (termasuk hedge fund).
“Peran dan fungsi perbankan makin jauh tertinggal, terutama di negara-negara industri maju,” ujarnya.
Pola perilaku LKNB itu dinilai paling memengaruhi pasar saham, pasar surat utang dan nilai tukar.
“Persepsi dan ekspektasi mereka yang menentukan arah. Dan sebagai korporasi, orientasinya jelas keuntungan,” ucap dia.
“LKNB (terutama hedge fund) justru akan mengoptimalkan kondisi saat ini untuk memperoleh keuntungan. Aksi mereka mencakup pula upaya merebalancing portofolionya. Akibatnya, pasar saham, pasar surat utang dan pasar uang bergejolak di seluruh dunia.”
(ell)





























