Dia juga menyampaikan Presiden Prabowo dalam pertemuan dengan Arm Limited turut menekankan pentingnya membangun ekosistem bioteknologi. Bidang ini dinilai terkait dengan konvergensi teknologi yang mencakup nano, bio, informasi, dan kognitif, yang disebut sebagai fondasi revolusi industri berikutnya.
“Semikonduktor adalah otak dari seluruh teknologi modern karena ini meliputi sensor, control. Satu kendaraan EV itu minimal jumlah semikonduktornya itu lebih dari 200,” tambahnya.
Berdasarkan perhitungannya, permintaan global terhadap semikonduktor diperkirakan akan terus meningkat dan mencapai nilai US$ 1 triliun pada 2030, didorong oleh kebutuhan pusat data, AI, komputasi kuantum, komunikasi nirkabel, serta elektronik otomotif.
Dia pun menilai Indonesia perlu kembali masuk dalam rantai industri semikonduktor global, mengingat RI pernah terlibat dalam industri ini sekitar 1980-an bersama Fairchild, tetapi kemudian kehilangan momentum saat memilih untuk tidak mengadopsi otomatisasi, sehingga investasi berpindah ke Malaysia.
Bahkan saat ini, lanjutnya, Malaysia telah memiliki sekitar 200 perusahaan dalam ekosistem semikonduktor dan menjadi salah satu yang terkuat di ASEAN, disusul Vietnam dan Singapura.
“Dan bagi semikonduktor Malaysia juga mereka dapat special treatment untuk masuk ke pasar Amerika,” jelas dia.
Adapun di dalam negeri, Airlangga menyoroti Indonesia memiliki jumlah pengguna internet terbesar di ASEAN, yakni sekitar 230 juta orang dengan tingkat penetrasi telepon seluler mencapai 116%
“Dan kita tidak boleh hanya menjadi pasar bagi industri digitalisasi,” imbuhnya.
(ell)































