Logo Bloomberg Technoz

Demam kecerdasan buatan (AI) sebelumnya telah melambungkan saham-saham Korea hingga 50% pada titik puncaknya tahun ini. Namun, perang di Iran yang memicu lonjakan harga minyak kini mengancam rencana pelonggaran kebijakan bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed). Sebagai konsumen minyak mentah terbesar kedelapan di dunia, Korsel berada di bawah tekanan besar, memaksa investor memikirkan ulang taruhan mereka pada ekuitas yang sudah dianggap terlalu panas.

Utang margin mencapai rekor tertinggi tepat sebelum aksi jual dimulai, seiring keberanian investor ritel bertaruh bahwa reli akan terus berlanjut. Kini, posisi tersebut berada dalam tekanan.

"Banyak aksi beli dilakukan dengan kredit, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar, di mana investor hanya menyetor jaminan margin sebesar 30%-40%," ungkap Kim Dojoon, CEO dan CIO Zian Investment Management. Menurut dia, kepemilikan tersebut kini mengalami likuidasi paksa. Jika besok pasar turun lagi, tidak akan ada yang berani mengambil risiko.

Menanggapi gejolak ini, Lee Eog-weon, Ketua Komisi Jasa Keuangan (FSC), telah meminta lembaga terkait untuk aktif menggunakan rencana darurat. Langkah ini mencakup dana stabilisasi pasar yang melebihi 100 triliun won, alat yang pernah dikerahkan saat krisis kredit Legoland beberapa waktu lalu.

Selama sebagian besar setahun terakhir, saham Korea menjadi semacam anomali global, bergerak berlawanan dengan tren “AI scare trade” dan tetap naik bahkan ketika saham regional melemah. Permintaan yang sangat kuat terhadap cip memori mendorong kenaikan berlipat pada saham Samsung dan SK Hynix, sementara dorongan reformasi korporasi oleh pemerintah juga memicu penilaian ulang terhadap pasar yang lama dianggap undervalued.

Aksi jual pekan ini menguji ketahanan tersebut, dengan investor memperdebatkan apakah ini menjadi titik balik pasar—atau sekadar koreksi yang dibutuhkan sebelum kembali melanjutkan kenaikan.

“Ini lebih terlihat sebagai pelepasan posisi dibandingkan perubahan fundamental khusus Korea,” ujar Dave Mazza, CEO Roundhill Investments. “Ketika selera risiko global menurun dan volatilitas energi serta nilai tukar melonjak, investor akan cepat mengurangi risiko pada saham-saham indeks yang paling besar dan likuid.”

Dana asing tercatat menjadi penjual bersih saham Kospi pada perdagangan pagi, melepas saham senilai lebih dari 1 triliun won. Investor ritel memang menambah posisi, namun dengan laju yang jauh lebih lambat dibanding sesi sebelumnya. Indeks Volatilitas Kospi 200, yang mengukur harga opsi, melonjak ke level tertinggi sejak Maret 2020.

“Pialang lokal mulai menghentikan penyediaan margin dan kami melihat aksi beli saat harga turun dari investor ritel jauh lebih lemah hari ini,” kata Shawn Oh, trader saham di NH Investment & Securities Co di Seoul. “Kami mungkin akan melihat pelemahan lanjutan pada satu jam terakhir perdagangan karena kekhawatiran akan margin call.”

Tidak semua saham melemah. Saham pertahanan LIG Nex1 Co menguat setelah analis menilai ketidakstabilan di Timur Tengah kemungkinan akan berlanjut. Saham kilang S-Oil Corp bahkan sempat melonjak hingga 25%.

Kondisi ini “dapat menciptakan peluang selektif untuk membangun posisi pada perusahaan dan sektor yang kini diperdagangkan pada harga menarik,” ujar Park Sojung, manajer portofolio di Matthews Asia. “Sektor industri Korea seperti pertahanan dan galangan kapal dapat kembali menjadi sorotan sebagai pihak yang diuntungkan dari ketidakstabilan global, keterbatasan pasokan, dan meningkatnya peran strategis Korea.”

(bbn)

No more pages