Logo Bloomberg Technoz

Bahlil menegaskan akan mengalihkan sekitar 25% dari total minyak mentah yang diimpor dari Timur Tengah. Akan tetapi, dia enggan menegaskan kapan rencana tersebut dieksekusi.

Begitu juga dengan gas minyak cair atau liquified petroleum gas (LPG), Bahlil menyatakan impor yang dilakukan tahun ini mencapai 7,8 juta ton dan 70% di antaranya sudah diimpor dari AS.

Dalam kaitan itu, 30% kebutuhan impor LPG Indonesia didatangkan dari Timur Tengah. Dengan kondisi terkini, Bahlil menyatakan akan turut mengalihkan impor LPG dari Timur Tengah ke AS dan beberapa negara yang tak terdampak konflik.

"Kita tahu bahwa dari informasi, dinamika ketegangan di Timur Tengah juga terkait dengan Saudi Aramco, itu juga kena kemarin dinamika di sana. Maka alternatifnya adalah kita switch lagi, supaya kita tidak mengambil risiko, sebagiannya kita switch lagi untuk kita belanja di negara yang tidak ada kaitannya dengan Selat Hormuz," ungkap dia.

Bahlil turut meyakini impor yang dialihkan ke AS dan beberapa negara lainnya tak akan terpengaruh sikap proteksionisme yang dipasang oleh sejumlah negara, termasuk Thailand. 

"Kita tidak melakukan impor dari Thailand. Untuk BBM-nya kita ambil dari Singapura sama Malaysia. Dan kontrak kita sudah kontrak jangka panjang. Jadi relatif oke dan kita sudah cek satu per satu," papar Bahlil.

"Dokumen ART yang kita tekan itu kan salah satu komitmen kita adalah kita membeli BBM, crude BBM dan LPG di Amerika kurang lebih sekitar 15 bilion USD. Dan ini merupakan bagian yang sekali pun sudah diputuskan untuk di pengadilan mereka untuk dianulir, tapi kan kita harus punya komitmen dong," tegasnya.

Pernyataan Bahlil tersebut senada dengan yang disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Airlangga menyatakan pemerintah akan tetap membeli minyak mentah dari AS meski ada perang AS dan Israel dengan Iran yang membuat harga minyak dunia berpotensi naik.

Airlangga mengungkap keputusan ini diambil karena dengan adanya kesepakatan dagang timbal balik atau Agreement on Reciprocal Trade (ART), Indonesia juga akan membeli minyak dari AS.

Bahkan, Airlangga menilai realisasi impor sejumlah komoditas migas dari AS tersebut perlu dipercepat guna memastikan pasokan energi Indonesia.

Sekadar catatan, Pemerintah Indonesia dan AS resmi menandatangani poin-poin kesepakatan perjanjian tarif resiprokal, salah satu poinnya memuat kepastian pembelian komoditas energi dari AS senilai total US$15 miliar atau setara Rp253,4 triliun (kurs Rp16.894).

Dalam dokumen yang dirilis Gedung Putih, Indonesia diwajibkan mendukung dan memfasilitasi pembelian LPG senilai US$3,5 miliar atau setara Rp59,13 triliun.

Selain itu, Indonesia juga akan mengimpor minyak mentah atau crude oil dari Negeri Elang Bondol dengan nilai US$4,5 miliar atau setara Rp76,02 triliun

Terakhir, Indonesia harus mengimpor bahan bakar minyak (BBM) atau bensin olahan senilai US$7 miliar atau setara Rp118,26 triliun.

Pada Senin (2/3/2026), harga WTI melonjak hingga 8,07% ke level sekitar US$72,43/barel. Sementara itu, minyak Brent untuk pengiriman Mei melonjak 12% menjadi US$81,37 per barel pada pukul 7.01 pagi di Singapura.

AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir pekan, yang dibalas dengan rentetan rudal yang ditujukan ke beberapa negara, termasuk Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Bahrain. Presiden AS Donald Trump mengatakan pasukan Amerika akan terus membombardir Iran sampai tujuannya tercapai.

Lalu lintas tanker melalui Selat Hormuz—titik krusial di lepas pantai Iran yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia—telah terhenti secara efektif akibat jeda sukarela oleh pemilik kapal, meski belum ditutup secara resmi.

(azr/ros)

No more pages