Menguatnya yuan terjadi setelah bank sentral China (PBOC) menetapkan kurs acuan harian di level 6,9088 yang lebih kuat dari perkiraan pasar. Keputusan tersebut memberi sinyal bahwa pemerintah China ingin melindungi ekonominya dari risiko kenaikan inflasi impor (imported inflation), terutama di tengah kenaikan harga minyak dunia lantaran terjadi krisis Timur Tengah.
Dari sisi domestik, agaknya rupiah masih menghadapi tantangan yang lebih kompleks. Kebijakan fiskal yang masih ekspansif dalam batas tertentu memang mendukung pertumbuhan yang ditopang negara. Namun, di tengah kondisi kenaikan harga minyak risiko kenaikan inflasi dapat menggerus ketahanan APBN 2026.
Sejumlah analis memproyeksikan harga minyak dunia bisa mencapai lebih dari US$108/barel, jika eskalasi konflik Timur Tengah makin memanas. Sebagai negara importir minyak, setiap kenaikan harga komoditas minyak ini akan membuat biaya pengeluaran belanja pemerintah semakin bengkak.
Kondisi fiskal ini membuat pasar berhitung ulang terkait risiko aset berdenominasi rupiah kala ketidakpastian global terjadi. Selain itu, data-data ekonomi domestik terakhir belum cukup untuk menjadi katalis penguatan rupiah.
Meski begitu, stabilitas rupiah akan bergantung pada intervensi Bank Indonesia (BI) yang melakukan operasi moneter guna meredam gejolak nilai tukar. Dalam situasi global seperti sekarang, stabilitas rupiah tak cuma soal menjaga kurs atau nilai tukar, tapi juga menjaga kepercayaan pasar.
Dari pasar surat utang, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah kompak mengalami kenaikan lantaran aksi jual yang terjadi. Tenor pendek 1Y hingga 5Y terkerek dan berada di rentang 5,16% hingga 5,86%, dengan kenaikan 0,08 bps hingga 1,6 bps.
Sementara, tenor menengah 7Y sampai 10Y berada di rentang 6% hingga 6,46%. Begitu juga tenor panjang, yang kemarin masih membukukan aksi beli, pagi ini 09.10 WIB sudah kembali dilepas dan mengalami kenaikan imbal hasil dan berada di rentang 6,5% hingga 6,77%.
Kenaikan imbal hasil ini mencerminkan meningkatnya premi risiko yang diminta investor. Saat ini, agaknya investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset emerging markets, termasuk surat utang di pasar domestik.
Artikel ini direvisi sebelumnya menyebut pembukaan menguat. Penguatan terjadi 10 menit setelah pembukaan berlangsung pada 09:10 WIB. Kami meminta maaf atas kesalahan penulisan ini.
(dsp/aji)





























