Dalam skenario Bloomberg Economics, jika Negara Persia itu kolaps, harga Brent tetap lebih tinggi dari kisaran US$70/barel hingga US$80/barel karena kekhawatiran ketidakstabilan.
Eskalasi yang meningkat, menurut mereka, dapat menggeser proyeksi harga Brent di posisi US$100/barel—US$110/barel.
Sementara itu, serangan terhadap infrastruktur energi di Selat Hormuz menyiratkan harga Brentdi level US$80/barel—$110/barel berkelanjutan mendorong batas atas kisaran harga tersebut.
2. Harga Minyak Enam Bulan Dipatok Rendah US$60-an
Bloomberg Intelligence memperkirakan selama enam bulan ke depan harga Brent bisa berada di level rendah US$60/barel, dan US$50/barel hingga US$60-an untuk West Texas Intermediate (WTI).
Hal ini menunjukkan kesepakatan luas bahwa kondisi geopolitik saat ini kemungkinan tidak akan bertahan lama.
Meskipun harga minyak dalam jangka pendek tetap berfluktuasi, skenario dasar mengasumsikan tidak ada gangguan berkelanjutan terhadap produksi minyak yang akan transit di Selat Hormuz.
Dalam konteks tersebut, neraca di paruh kedua akan lebih seimbang serta pasokan AS yang tangguh, dan pengurangan produksi bertahap OPEC+ kembali menegaskan dirinya sebagai faktor pendorong.
Konsensus menyiratkan bahwa fundamental pada akhirnya akan mendominasi karena risiko eskalasi memudar dan pasar bergeser kembali ke dinamika penawaran dan permintaan dan menjauh dari penetapan harga yang didorong oleh headline berita utama.
3. Brent di level US$80 Bisa Tercapai Seiring Meningkatnya Risiko Iran
Brent diproyeksikan mendekati US$80 dalam waktu dekat karena serangan AS-Israel terhadap Iran dan pembalasan Teheran memperluas risiko geopolitik minyak.
Menurut analis Bloomberg Intelligence, pasar mulai beralih dari penetapan harga berdasarkan berita utama ke penilaian jalur eskalasi dengan potensi kenaikan lebih lanjut.
Namun, hal itu bergantung serangan yang menargetkan infrastruktur energi atau mengganggu aliran melalui Selat Hormuz. Fokus utama jangka pendek adalah kerusakan yang telah dikonfirmasi pada aset ekspor seperti Pulau Kharg dan transit kapal tanker melalui Hormuz.
“Jika produksi dan pengiriman tetap utuh, maka lonjakan harga dapat stabil. Jika tidak, keseimbangan jangka pendek yang lebih ketat dan selisih harga yang lebih curam akan menandakan pergeseran dari premi risiko menuju gangguan fisik,” ujarnya.
Selain itu, OPEC+ mungkin mempertimbangkan peningkatan produksi yang lebih besar, tetapi kapasitas cadangan hanya menstabilkan harga jika produksi dan rute transit Selat Hormuz tetap aman.
4. WTI di Level US$75 Jika Ketegangan Iran Meningkat
Harga WTI diprediksi naik di level US$75/barel dalam waktu dekat karena ketegangan risiko geopolitik yang meningkat setelah serangan AS terhadap Iran dan ancaman pembalasan yang dapat memperluas konflik.
Kekhawatiran tersebut diperbarui atas potensi gangguan transit melalui Selat Hormuz -- khususnya bagi kilang minyak China yang bergantung pada minyak mentah Timur Tengah dan mendorong penetapan harga.
“Dengan nilai wajar mendekati US$60/barel, dan kenaikan US$15/barel—US$20/barel tampaknya dibenarkan mengingat potensi gangguan pasokan, kondisi makroekonomi yang rapuh, dan keterbatasan kapasitas cadangan OPEC+,” tulisnya.
Sementara itu, peningkatan harga secara historis mencapai US$25—US$30/barel, menyiratkan potensi kenaikan WTI menuju US$$85—US$90 jika eskalasi meningkat atau berkepanjangan.
5. Proyeksi Nilai Wajar WTI US$67/Barel
Nilai wajar WTI diperkirakan sebesar US$67/barel, secara umum sejalan dengan harga terkini, mencerminkan pandangan bahwa inflasi harga minyak tambahan dari konflik Timur Tengah mungkin bersifat sementara kecuali infrastruktur energi atau rute transit utama seperti Selat Hormuz mengalami kerusakan parah.
Terlepas dari ketegangan geopolitik, persediaan global tetap kuat di darat dan laut, serta pasar fisik cukup tersuplai dengan baik.
Dukungan sementara dari perkembangan di Venezuela dan perang di Ukraina menopang sentimen, tetapi kenaikan berkelanjutan akan membutuhkan gangguan pasokan yang signifikan bukan premi risiko yang didorong oleh berita utama.
6. Tren Positif Brent Bisa Berubah Merah Menjelang Akhir Tahun
Harga minyak mentah kemungkinan sudah mencapai puncaknya pada 2026 jika serangan AS-Israel gagal memicu gangguan pasokan yang berkelanjutan.
Harga minyak sudah mencerminkan risiko konflik, dengan Brent mendekati batas atas kisaran harga baru-baru ini dan posisi spekulatif yang terlalu tinggi.
Hedge fund memegang posisi terpanjang dalam sekitar satu tahun sebelum serangan, meningkatkan risiko pelepasan posisi jika eskalasi terbukti terbatas.
Dengan net ekspor minyak AS mendekati 4 juta barel per hari — tertinggi dalam sejarah — Belahan Bumi Barat telah bergeser ke status penentu harga, mengurangi kemungkinan guncangan pasokan yang berkepanjangan.
Tanpa penurunan produksi global yang berkelanjutan, Brent mungkin akan kesulitan bertahan di atas rata-rata lima tahunnya mendekati US$$74/barel dan mungkin berpotensi turun menuju US$50-an/barel, karena premi risiko berkurang dan fundamental kembali menguat.
(mfd/wdh)




























