"Namun, kalau ini berlarut-larut, ya itu yang dikhawatirkan, itu yang mungkin akan membuat kondisinya bisa lebih uncertain dan volatilitas harga di energinya bisa akan lebih tinggi," ujarnya.
Berkaca dari konflik geopolitik sebelumnya, seperti Rusia dan Ukraina maupun serangan Israel ke Iran, harga minyak mentah memang sempat naik. Namun, tidak butuh waktu lama untuk kembali turun karena konflik berangsur mereda.
Untuk itu, saat ini DEN belum bisa berbicara banyak mengenai peluang kenaikan harga BBM di Indonesia mengingat ketidakpastian yang masih tinggi di Timur Tengah.
"Kalau kita lihat kemarin perang Rusia dan Ukraina, atau kemarin yang tahun lalu serangan Israel ke Iran kan sempat naik, spike, tetapi langsung turun lagi. Jadi kita lihat lah, mungkin satu minggu ke depan," ungkap Seto.
Secara umum, negara-negara importir minyak disebut Seto bakal merasakan dampak dari gejolak yang terjadi di Timur Tengah. Dalam hal ini, harga energi berpotensi melambung seiring naiknya harga minyak mentah dunia.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya memiliki perhatian untuk mengurangi dependensi terhadap impor energi. Salah satu kebijakan pendukungnya, yakni mandatori biodiesel yang berada di level 40% (B40).
"Kalau strateginya Bapak Presiden dari awal kan kita sudah coba untuk mengurangi dependensi terhadap impor ya, salah satunya biodiesel dan segala macam. Saya kira itu salah satu langkah mitigasi ya, kita coba kurangi dependensi terhadap minyaknya," jelas dia.
Sebelumnya, sejumlah analis memproyeksikan harga minyak dunia rawan mencapai lebih dari US$110/barel imbas serangan AS-Israel terhadap Iran dan terganggunya salah satu urat nadi terpenting perdagangan energi dunia, yakni Selat Hormuz.
Analis yang juga Chief Executive Officer (CEO) Edvisor Provina Visindo Praska Putrantyo bahkan menilai jika eskalasi terus berlanjut, tidak menutup kemungkinan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) mendekati titik tertinggi pada semester-I 2022 atau saat terjadi konflik di Ukraina dan Rusia kala itu.
Hal ini diakibatkan karena terganggunya mayoritas pasokan minyak mentah.
“Jika terus berlanjut atau konflik meluas hingga penutupan Selat Hormuz berlangsung lama, tidak menutup kemungkinan minyak mentah WTI bisa tembus di atas US$100/barel atau US$110/barel,” kata dia, Senin (2/3/2026).
Untuk jangka pendek, penutupan Selat Hormuz dalam membuat harga minyak WTI berpotensi menyentuh ke level resistance terdekatnya di US$74/barel—US$77/barel. Dalam skenario moderat, harga minyak mentah di kisaran US$75/barel—US$80/barel.
Senada, analis komoditas Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan WTI akan dengan mudah melewati level US$70/barel dalam jangka pendek. Namun, apabila eskalasi berlangsung lama WTI dapat tembus di level US$100/barel.
Jika harga minyak WTI naik, lanjutnya, Brent sudah hampir pasti akan mengikuti.
"Brent selama ini harganya sekitar 5%—10% di atas WTI, jadi sekitar US$105—US$110 per barel," ucapnya. “Persoalannya adalah logistik, bukan hanya produksi, 20% minyak mentah melewati Hormuz."
Pada Senin (2/3/2026), harga WTI melonjak hingga 8,07% ke level sekitar US$72,43/barel. Sementara itu, minyak Brent untuk pengiriman Mei melonjak 12% menjadi US$81,37 per barel pada pukul 7.01 pagi di Singapura.
Dalam perkembangan terbaru, Presiden AS Donald Trump mengatakan militer AS akan terus membombardir Iran hingga tujuannya tercapai, sambil mengakui bahwa “kemungkinan akan ada lebih banyak” korban jiwa di pihak Amerika.
Dalam sebuah video yang diunggah di media sosial pada hari Minggu, Trump mengonfirmasi kematian pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei dan mengatakan AS dan Israel telah menyerang ratusan target di Iran, termasuk fasilitas Garda Revolusi dan pertahanan udara.
Trump menyerukan militer dan polisi Iran untuk menyerah “untuk kekebalan penuh atau menghadapi kematian yang pasti.”
“Kita tidak dapat membiarkan sebuah negara yang membentuk pasukan teroris memiliki senjata seperti itu yang memungkinkan mereka untuk memaksa dunia menuruti keinginan jahat mereka,” katanya tentang ambisi nuklir Iran.
“Operasi tempur terus berlanjut saat ini dengan kekuatan penuh dan akan terus berlanjut hingga semua tujuan kita tercapai.”
(mfd/wdh)





























