Logo Bloomberg Technoz

Bloomberg Economics menulis bahwa Iran memasok sekitar 5% kebutuhan minyak dunia, dan penghentian produksi total akan mendongkrak harga hingga sekitar 20% lebih tinggi. Ziad Daoud dan Dina Esfandiary dari Bloomberg Economics menambahkan bahwa sekitar 20% pasokan minyak dunia beredar melalui Selat Hormuz dan jika jalur itu ditutup harga minyak bisa mencapai US$108 per barel. 

Jika situasi ini berlanjut, harga minyak yang tinggi akan memukul importir minyak terbesar dunia seperti China, Eropa, dan India, sementara pihak yang diuntungkan adalah negara eksportir seperti Rusia, Kanada, dan Norwegia. 

Bagi Amerika Serikat, konsumen negara itu yang akan terkena dampak karena harga BBM yang tinggi akan menekan pendapatan mereka, namun perekonomian negara ini secara keseluhan tidak akan terkena dampat besar karena cadangan shale membuat AS sebagai negara pengekspor minyak. 

Tentu saja, semua ini akan bergantung pada situasi ke depan. Para analis Bloomberg Economics mengatakan balasan dari Iran akan terus meningkat. 

"Meski Iran tidak bisa melawan kekuatan militer AS, negara ini bisa menyebabkan kerugian besar dan berupaya mempersulit AS di kawasan," kata Daoud dan Enfandiary, Becca Wasser, dan Jennifer Welch. 

Bagi perekonomian global yang sudah kacau akibat kebijakan tarif Trump dan ketidakpastian terkait dampak AI terhadap pasar tenaga kerja, ketegangan di Timur Tengah ini semakin menimbulkan ketidakpastian. 

Kilang minyak China akan terdampak jika minyak asal Iran terganggu karena negara ini diperkirakan mengimpor 99% produksi minyak Iran, setara dengan 13% dari total impor minyak mentah China pada 2025.

"China akan kehilangan satu lagi sumber minyak murah," tulis pengamat TD Securities. 

Rusia diperkikan akan mendapat keuntungan karena India dan China diperkirakan akan beralih ke minyak murah produksinya, yang akan mengurangi tekanan yang dialami Kremlin akibat penurunan harga minyak mentah sebelumnya.

Setelah serangan militer AS dan Israel ke Iran menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, Menteri Luar negeri China Wang Yi menyebutnya "tidak bisa diterima membunuh seorang pemimpin negara berdaultan dan mengupayakan perubahan rejim secara terbuka."

Situasi ini terjadi satu bulan sebelum Presiden Xi Jinping akan menerima kunjungan Trump ke Beijing dan hubungan AS-China yang memburuk akan menganggu perdamaian perdagangan yang berhasil menenangkan para investor di dua wilayah itu. 

Jika gejolak pasar terus terjadi, negara-negara dengan sedikit cadangan devisa akan menjadi rentan. 

Para analis di Citigroup mengatakan negara seperti Argentina, Sri Lanka, Pakistan dan Turki "menghadapi tekanan lebih besar akibat modal yang keluar dan depresiasi mata uang."

Dalam upaya melindung mata uangnya, bank sentral Turki mengumumkan penundaan lelang repo satu minggu karena sitausi di pasar finansial. 

Turki juga rentan akan perubahan pada sentimen pasar kerena hubungan dagangnya dengan Iran. 

"Iran adalah negara dengan perekonomian kecil tetapi pasar melihatnya sebagai salah satu alasan yang bisa berdampak negatif pada Turki," tulis Robin Brooks, penulis Shadow Price Macro Substack. 

Bank-bank sentral negara lain kemungkinan akan mengambil langkah terukur untuk saat ini. 

"Yang membuat rumit pada jangka pendek adalah ada peningkatan luas pada ketidkapastian golobal yang mungkin berdampak pada sisi permintaan satu negara sementara inflasi pun diperkiakan akan meningkat," tulis para analis TD Securities.

"Pada awalnya diperlukan kesabaran, tetapi siap mengambil tindakan ketika situasi di Timur Tengah menjadi stabil," tulis TD Securities.

(bbn)

No more pages