Sebagian besar serangan berhasil dicegat dan hanya ada sedikit laporan korban jiwa serta kerusakan di berbagai area di kedua kota tersebut.
Namun, serangan ini memicu kepanikan di kalangan warga dan menimbulkan ancaman besar terhadap perekonomian UEA serta statusnya sebagai pusat keuangan, logistik, dan pariwisata yang stabil.
“Serangan AS-Israel terhadap Iran mengancam terjadinya guncangan permintaan untuk penjualan properti UEA, berisiko mengganggu penyerapan 350.000 unit pasokan baru, serta 120 juta kunjungan ke Dubai Mall dan sektor pariwisata ritel serta perhotelan,” tulis analis Bloomberg Intelligence Edmond Christou dan Salome Skhirtladze dalam sebuah catatan.
“Pengembang UEA, seperti Emaar, rentan, demikian pula bank-bank UEA dengan eksposur siklikal yang lebih besar.”
Kapitalisasi pasar bursa saham UEA mencapai US$1,1 triliun, menjadikannya yang terbesar ke-19 di dunia. Pasar ini memiliki bobot 1,4% dalam indeks pasar negara berkembang milik MSCI Inc..
Penutupan pasar seperti ini tergolong tidak biasa di negara tersebut. Di luar hari libur yang telah dijadwalkan, bursa UEA biasanya hanya ditutup pada masa berkabung nasional, seperti setelah wafatnya Presiden Sheikh Khalifa bin Zayed Al Nahyan pada Mei 2022.
Meski demikian, bukan hal yang jarang bagi suatu negara untuk menutup pasar sahamnya pada masa ketidakpastian dan gejolak.
Sebagai contoh, Turki menghentikan perdagangan selama sepekan setelah gempa bumi pada 2023 dan pasar melonjak saat dibuka kembali.
Rusia menutup pasarnya selama sekitar satu bulan pada 2022 setelah invasinya ke Ukraina. Di Yunani, Athens Stock Exchange ditutup selama lima pekan pada 2015 selama krisis utang negara dan anjlok ketika perdagangan kembali dibuka.
Di kawasan Teluk lainnya, Otoritas Pasar Modal Kuwait mengatakan bahwa bursa saham negara itu akan kembali beroperasi pada 2 Maret setelah menghentikan perdagangan pada Minggu.
(bbn)



























