"Energi terbarukan terus tumbuh, meski berita utama saat ini menunjukkan gas alam sebagai rajanya," kata Patrick Finn, analis utama Wood Mackenzie, perusahaan riset energi. "Meski ada banyak hambatan bagi energi terbarukan yang berasal dari Washington DC, kita baru saja melewati empat tahun di mana tidak banyak hambatan."
Meski beberapa pembangkit gas alam besar dibuka di AS tahun lalu, kapasitasnya dikalahkan oleh gelombang fasilitas energi terbarukan skala kecil yang mulai beroperasi. Pembangkit surya dan angin tersebut tidak hanya terbatas di negara bagian yang dikuasai Partai Demokrat. Termasuk di antaranya pembangkit surya Hornet berkapasitas 600 megawatt, yang dibuka di selatan Amarillo, Texas, pada April, dan pembangkit angin Beaver Creek di sebelah timur Billings, Montana, yang mulai beroperasi dengan kapasitas sekitar 248 megawatt empat bulan kemudian.
Meski tahun lalu merupakan tahun yang baik bagi energi terbarukan, lonjakan permintaan energi dari pusat data, kendaraan listrik, dan industri juga meningkatkan produksi listrik dari bahan bakar fosil. Hal ini termasuk peningkatan 13% dalam pembangkit listrik dari batu bara. Pemerintahan Trump juga mendukung produksi dan penggunaan bahan bakar fosil melalui hibah dan perintah untuk menunda penutupan pembangkit listrik.
"Produksi minyak Amerika meningkat lebih dari 600.000 barel per hari," kata Presiden Donald Trump dalam pidato State of the Union pada Selasa. "Produksi gas alam Amerika ada di level tertinggi sepanjang sejarah karena saya menepati janji untuk terus mengebor."
Namun, energi terbarukan tumbuh lebih cepat daripada peningkatan tersebut, didorong oleh penurunan biaya sel surya, turbin angin, dan baterai raksasa. Bahkan tanpa subsidi, instalasi energi terbarukan kini lebih murah untuk dibangun daripada alternatifnya dalam kebanyakan skenario, menurut Lazard.
Hal itu tercermin dalam rencana pembangunan fasilitas energi AS di masa depan. Hampir 80% kapasitas pembangkit listrik yang direncanakan akan ditambahkan selama kurang lebih satu dekade ke depan terkait dengan sumber energi terbarukan, menurut data yang dikumpulkan Cleanview.co, perusahaan data energi, dari berkas-berkas yang diajukan kepada regulator federal dan operator jaringan listrik.
Amanda Levin, direktur analisis kebijakan di Natural Resources Defense Council, mengatakan bahwa laju pembangunan energi hijau akan semakin cepat karena perusahaan utilitas berlomba untuk memenuhi tenggat waktu insentif federal yang akan berakhir.
Pemerintah memperkirakan 93% kapasitas pembangkit listrik baru yang diperkirakan akan ditambah ke jaringan listrik tahun ini akan berasal dari angin, surya, dan baterai. Hal ini menempatkan energi terbarukan pada posisi untuk menghasilkan persentase yang semakin besar dari seluruh daya listrik AS.
Wood Mackenzie memperkirakan energi terbarukan, termasuk tenaga air, akan menyumbang hampir sepertiga dari total konsumsi listrik AS pada tahun 2030.
"Teknologi-teknologi yang dapat diterapkan secara besar-besaran dan dengan biaya yang terjangkau saat ini hanyalah angin, tenaga surya, dan penyimpanan baterai," kata Levin. "Tidak peduli apa yang dilakukan Trump, dia tidak akan melihat kebangkitan kembali bahan bakar fosil."
(bbn)






























