Logo Bloomberg Technoz

Tekanan Global dan Domestik Seret Rupiah ke Zona Merah

Tim Riset Bloomberg Technoz
24 February 2026 16:13

Warga menukarkan uang dolar AS ke rupiah di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Jumat (9/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Warga menukarkan uang dolar AS ke rupiah di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Jumat (9/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah, menyusul sejumlah sentimen domestik dan eksternal yang membebani. Setelah sempat menguat tiga hari beruntun, penutupan pasar spot hari ini rupiah kembali menyusut.  

Rupiah ditutup susut sebesar 0,19% terhadap dolar AS dan dibanderol Rp16.826/US$, hanya sedikit lebih baik dari pembukaan tadi pagi di level Rp16.828/US$. Indeks dolar kembali menguat 0,21% ke level 97,91 pada perdagangan hari ini. 

Pergerakan mata uang Asia dalam perdagangan Selasa sore (24/2/2026). (Bloomberg)

Dolar AS menguat lantaran pelaku pasar tengah berfokus pada pidato State of the Union Trump yang dijadwalkan berlangsung Selasa malam waktu setempat, di tengah ketidakpastian terkait rezim tarif yang dia berlakukan serta berlanjutnya ketegangan dengan Iran.


Di sisi lain, penguatan dolar AS juga tertopang oleh penetapan kurs tengah yuan China terhadap dolar AS. Nilai tukar yuan China dengan dolar AS telah menyusut tipis 120 percentage in point (pip) dan berada di kisaran 6,92. 

Namun, agaknya bank sentral China People’s Bank of China menetapkan kurs tengah lebih tinggi di atas ekspektasi pasar sebesar 6,94 dan membuat dolar AS terkerek. 

Pergerakan indeks dolar AS dalam tiga hari terakhir kembali rebound setelah sempat melemah pada 23 Februari 2026. (Bloomberg).