Logo Bloomberg Technoz

Ekonom Beber Faktor Pemberat Rupiah Meski BI Rate Naik

Redaksi
27 May 2026 12:30

Karyawan memegang mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan memegang mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah terus mencatatkan perlemahan terhadap dolar Amerika Serikat. Pada sesi perdagangan siang ini, Selasa (26/5/2026) pukul 12:56 WIB, mata uang Ibu Pertiwi terdepresiasi 0,27% ke Rp17.791/US$. 

Anjloknya rupiah ini terjadi di tengah berbagai usaha bank sentral yang sudah melakukan berbagai intervensi termasuk menaikkan suku buga BI hingga 50 basis poin menjadi 5,25%.

Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede mengatakan bahwa inti permasalahan rupiah saat ini tidak hanya ditentukan oleh suku bunga. Toh, suku bunga hanya jadi salah satu instrumen penahan jatuhnya mata uang garuda.


“Tekanan rupiah lebih kuat karena sumber tekanannya datang bersamaan dari harga minyak tinggi, dolar AS yang masih kuat, imbal hasil obligasi AS yang tinggi, kebutuhan dolar domestik, arus modal yang mudah keluar, serta kekhawatiran pasar terhadap fiskal dan arah kebijakan,” kata Josua kepada Bloomberg Technoz, Rabu, 27 Mei 2026.

Menurut Josua, faktor pertama yang paling mendasar adalah tekanan global, khususnya konflik Timur Tengah dan harga energi. Penutupan Selat Hormuz masih membuat distribusi energi global belum sepenuhnya normal, sehingga harga minyak tetap tinggi dan volatil.