Logo Bloomberg Technoz

Meski demikian, Dicky menekankan pentingnya melihat risiko secara ilmiah. Infeksi Human Papillomavirus (HPV) diketahui menyebabkan sekitar 95% kasus kanker serviks, serta berkontribusi pada kanker anus, orofaring, dan penis. Di negara berkembang termasuk Indonesia, kanker serviks masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada perempuan.

“Dalam konteks manajemen risiko, risiko tidak divaksin jauh lebih besar dibandingkan risiko divaksin. Anak dimasukkan dalam program ini bukan karena jadi kelinci percobaan, tetapi karena pada usia tersebut respons imun lebih optimal untuk pencegahan primer,” tegasnya.

Dicky juga menyoroti isu keamanan vaksin. Berdasarkan pemantauan berbagai lembaga internasional seperti Centers for Disease Control and Prevention (CDC), World Health Organization (WHO), serta Global Advisory Committee on Vaccine Safety, tidak ditemukan bukti korelasi antara vaksin HPV dan kematian.

"Efek samping yang paling umum dilaporkan umumnya ringan, seperti nyeri di lokasi suntikan, demam ringan, dan pusing sementara. Kejadian berat sangat jarang, dengan rasio kurang dari 1 per 100.000 dosis, dan biasanya berupa reaksi alergi yang dapat ditangani,"klaim Dicky.

Bahkan Dicky mengatakan sejumlah meta-analisis besar yang dipublikasikan di jurnal ilmiah internasional juga menunjukkan profil keamanan vaksin HPV yang sangat baik setelah hampir 20 tahun penggunaan dan ratusan juta dosis diberikan secara global.

(dec)

No more pages