Logo Bloomberg Technoz

Para pembuat kebijakan menegaskan kembali bahwa rupiah tetap undervalued dan menegaskan kembali kesiapan mereka untuk melakukan intervensi di pasar valuta asing, didukung oleh cadangan devisa yang masih dianggap cukup sebesar US$154,6 miliar. 

Di tengah data realisasi pendapatan negara yang mengalami kenaikan. Kementerian Keuangan mencatat hingga 31 Januari 2026 pemerintah membukukan pendapatan negara sebesar Rp172,7 triliun, atau setara 5,5% dari target APBN yang dipatok sebesar Rp3.153,6 triliun. 

Di saat yang sama, penerimaan pajak pada Januari 2026 tercatat sebesar Rp116,2 triliun atau tumbuh 30,7% dibandingkan periode sama tahun lalu. Realisasi tersebut telah mencapai 4,9% dari target penerimaan dalam APBN 2026. 

Namun, penguatan mata uang Garuda agaknya masih akan terbatas lantaran data neraca transaksi berjalan kembali defisit pada kuartal keempat tahun 2025 yang dirilis pekan lalu. Data NPI menggambarkan kondisi struktur eksternal Indonesia yang semakin bergantung terhadap aliran modal asing jangka pendek. 

Sebagai informasi, pekan lalu Bank Indonesia melansir data NPI kuartal IV-2025. Tercatat surplus NPI yang sebesar US$7 miliar pada triwulan IV 2025 tidak lagi ditopang oleh kekuatan sektor riil, melainkan oleh transaksi modal dan finansial. Transaksi modal dan finansial pada triwulan IV 2025 tercatat surplus US$8,3 miliar (2,3% dari PDB), setelah pada periode sebelumnya terkontraksi US$8 miliar (2,1% dari PDB). 

Dengan kondisi ini, pergerakan rupiah di zona hijau hari ini ditopang oleh kondisi lesunya dolar AS. Hal ini juga terjadi pada hampir semua mata uang Asia. 

Dari pasar surat utang, aksi beli masih mewarnai surat utang negara (SUN) pada perdagangan siang ini. Imbal hasil SUN mulai menyusut. Imbal hasil tenor 1Y turun 1,7 basis poin (bps) ke 5,01%, tenot 5Y turun 1,1 bps ke 5,77% dan 10Y turun 1,2 bps ke 5,77%. 

Meski begitu, secara week-to-date pasar SUN telah ditinggalkan investor dengan adanya outflow US$159,2 miliar.  

(dsp/aji)

No more pages