Logo Bloomberg Technoz

"Presiden Xi, dia memperlakukan saya dengan sangat baik, dia memberi saya pertunjukan, saya belum pernah melihat begitu banyak tentara dengan tinggi yang sama, persis sama," kata Trump. "Tapi saya berkata, 'Anda harus melebihkannya.' Dia berkata, 'Saya akan melebihkannya. Kita akan melampauinya.'"

Trump mengatakan dia juga berharap Xi akan berkunjung ke Washington akhir tahun ini. Presiden China itu diperkirakan akan menghadiri pertemuan negara-negara G-20 di Florida.

Ini merupakan perubahan signifikan dari dinamika antara AS dan China awal tahun lalu, ketika serangkaian kenaikan tarif dan pembatasan ekspor saling balas memicu gejolak di pasar keuangan global dan menimbulkan kekhawatiran akan resesi ekonomi.

Setelah berbulan-bulan negosiasi, Trump dan Xi mencapai kesepakatan satu tahun pada Oktober lalu untuk menurunkan tarif dan pembatasan ekspor.

Tujuan utama Beijing dalam pembicaraan mendatang adalah memperpanjang gencatan dagang. Para pejabat kemungkinan akan mendesak pengurangan tarif lebih lanjut dan pelonggaran pembatasan pengiriman cip kecerdasan buatan canggih, seperti dilaporkan Wall Street Journal pada 18 Februari, mengutip sumber anonim yang dekat dengan pemerintah China.

Keputusan tarif pada Jumat kemungkinan akan memperkuat posisi Beijing dan akan mempersulit permintaan Trump untuk membeli kedelai dalam jumlah besar, pesawat Boeing Co, dan ekspor energi. 

Defisit perdagangan yang menyempit telah menjadi fokus utama Trump. Defisit tahunan AS dengan China menyusut pada 2025 menjadi sekitar US$202 miliar—level terendah dalam 21 tahun, menurut data Departemen Perdagangan.

Ketegangan politik yang memanas—termasuk terkait Taiwan, pulau yang berpemerintahan sendiri yang dianggap China sebagai wilayahnya, dan langkah-langkah AS di Amerika Selatan—juga mengancam akan mengganggu upaya perdamaian.

Xi mengatakan kepada Trump dalam percakapan telepon Februari bahwa Beijing tidak akan pernah mengizinkan Taiwan terpisah dan memperingatkan AS agar menangani penjualan senjata ke Taipei dengan "sangat hati-hati," menurut pemerintah China.

Washington menyetujui paket penjualan senjata ke Taiwan hingga US$11 miliar pada Desember. Kementerian Luar Negeri Taiwan mengatakan AS melanjutkan kebijakannya untuk menormalisasi penjualan senjata ke pulau tersebut. Pengumuman Desember itu menuai kecaman keras dari Beijing, meski Xi tidak sampai menuntut Trump menghentikan penjualan tersebut sepenuhnya. 

Taiwan berusaha memperkuat pertahanannya untuk mencegah tekanan China yang semakin meningkat. Pemerintah Taipei menolak klaim Beijing atas Taiwan karena pulau yang berdaulat itu berupaya mencari pengakuan internasional yang lebih besar. 

Serangkaian langkah pemerintahan Trump guna menekan Iran dan memainkan peran yang lebih agresif di Amerika Tengah dan Selatan juga berdampak pada China. Penangkapan Nicolas Maduro, pemimpin Venezuela yang berpengaruh—sekutu utama China di kawasan tersebut—pada awal tahun ini diikuti oleh upaya AS untuk menegakkan sanksi terhadap perdagangan minyak mentah negara tersebut, di mana China sebagai pembeli utama.

Pada saat yang sama, Trump berusaha menekan Iran dengan ancaman tarif terhadap negara-negara yang melakukan bisnis dengan Republik Islam Iran, yang berisiko bagi China, pembeli utama minyak Iran di dunia.

(bbn)

No more pages