Logo Bloomberg Technoz

Dari sisi global, risiko yang bersumber dari ketegangan geopolitik masih membayangi pasar. China dilaporkan meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Jepang agar menarik kembali pernyataannya terkait Taiwan.

Sementara dari Timur Tengah, Militer AS tengah dikerahkan seiring dengan Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Iran memiliki waktu 10 hingga 15 hari untuk mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya. Hal ini terjadi bersamaan dengan latihan militer Iran di dekat Selat Hormuz.

Ketegangan antara AS-Iran membuat sebagian besar pasokan minyak global terekspos terhadap risiko gangguan, serta memperkuat kembali premi geopolitik dalam harga minyak mentah. Harga Brent kembali berada di atas US$70 per barel, naik hampir 6% dalam beberapa hari terakhir. 

Harga minyak mentah dunia kembali naik, imbas ketegangan geopolitik AS-Iran. (Bloomberg)

Dari pasar domestik, suku bunga acuan yang ditahan lebih lama agaknya juga belum mendapat apresiasi dari pelaku pasar. Saat ini pasar belum melihat adanya perubahan yang bersifat struktural terutama terkait kekhawatiran terhadap kondisi fiskal yang mengalami defisit hampir menyentuh ambang batas yang ditetapkan Undang-Undang yaitu 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Kemarin, dalam Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI), Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan bahwa rupiah berada dalam posisi undervalued, alias di bawah nilai wajarnya jika melihat fundamental perekonomian domestik saat ini. Sehingga suku bunga ditahan lebih lanjut guna menjaga stabilisasi nilai tukar rupiah

Dengan kondisi rupiah saat ini, pelaku pasar memproyeksikan adanya pemangkasan suku bunga mungkin mulai berlanjut pada kuartal III-2026 akibat gejolak global dan kondisi sentimen terkait fiskal domestik yang belum mereda.

(dsp/aji)

No more pages