Rupiah Ditutup Menguat Tipis Pasca Keputusan BI Rate
Tim Riset Bloomberg Technoz
19 February 2026 15:35

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat tipis pada perdagangan sore ini, menyusul keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75%.
Pada perdagangan hari ini (19/2/2026), rupiah ditutup menguat 0,02% ke level Rp16.880/US$, setelah sempat melemah hingga 0,27% ke Rp16.919/US$ pada sesi perdagangan siang. Sepanjang pagi hingga Kamis siang, rupiah bergerak di zona negatif sebelum akhirnya berbalik menguat menjelang penutupan.
Dalam keterangan pers hari ini, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan nilai tukar rupiah saat ini dalam posisi undervalued mengingat nilai fundamentalnya saat ini, dinilai sudah tidak sesuai dengan realitas ekonomi Indonesia.
"Rupiah sudah undervalued dibandingkan dengan fundamental perekonomian Indonesia. Termasuk konsistensi dalam menjaga inflasi di kisaran 2,5 plus minus 1%," kata Perry dalam keterangan pers Kamis (19/2/2026).
BI menyebut pelemahan rupiah yang terjadi belakangan ini lantaran faktor teknikal dan jangka pendek akibat tingginya kebutuhan valas dalam transaksi ekonomi yang ikut menekan rupiah. Untuk itu, BI secara aktif melakukan operasi pasar guna menstabilisasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
"Baik melalui intervensi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) luar negeri (off-shore) maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar dalam negeri," ungkap Perry.
BI menegaskan bahwa ruang untuk penurunan suku bunga lanjutan masih terbuka. Namun demikian, di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, setiap langkah pelonggaran kebijakan akan tetap bergantung pada perkembangan data ekonomi.
Sinyal terbukanya ruang pemangkasan suku bunga tersebut mencerminkan upaya BI dalam menjaga fleksibilitas kebijakan ke depan, tanpa mengorbankan kredibilitas stabilisasi nilai tukar yang tengah diupayakan saat ini.
Komitmen untuk mengintensifkan stabilisasi rupiah, baik di pasar offshore maupun onshore, serta melanjutkan operasi moneter yang pro-pasar guna menarik aliran masuk modal asing, juga mengindikasikan bahwa bauran kebijakan (policy mix) akan tetap menjadi instrumen utama dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan.
Artinya, pelonggaran moneter, apabila dilakukan, kemungkinan besar akan didahului oleh penguatan langkah-langkah stabilisasi likuiditas dan intervensi valas untuk memitigasi risiko imported inflation maupun capital outflows.
Di sisi lain, untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS, BI juga terus mengupayakan pendalaman transaksi menggunakan mata uang yuan China.































