Logo Bloomberg Technoz

Jejak Sunyi Pasar Ular di Antara Kenangan yang Masih Tersisa

Andrean Kristianto
17 April 2026 17:44

Pedagang merapihkan barang yang dijualnya di Pasar Ular, Jakarta, Jumat (17/4/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Pedagang merapihkan barang yang dijualnya di Pasar Ular, Jakarta, Jumat (17/4/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Pasar Ular di Jakarta Utara kini tampak lengang dan tidak seramai sebelumnya. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Pasar Ular di Jakarta Utara kini tampak lengang dan tidak seramai sebelumnya. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Banyak kios-kios pedagang yang terpaksa tutup karena kondisinya yang sepi. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Banyak kios-kios pedagang yang terpaksa tutup karena kondisinya yang sepi. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Pedagang banyak yang hanya duduk-duduk di depan kios menunggu pembeli. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Pedagang banyak yang hanya duduk-duduk di depan kios menunggu pembeli. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Kondisi sepi mulai dirasakan pedagang sejak masa pandemi Covid-19. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Kondisi sepi mulai dirasakan pedagang sejak masa pandemi Covid-19. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Penurunan jumlah pengunjung berdampak langsung pada pendapatan yang berkurang hingga 50%. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Penurunan jumlah pengunjung berdampak langsung pada pendapatan yang berkurang hingga 50%. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Pedagang menyebut perubahan kebiasaan belanja online menjadi salah satu penyebab berkurangnya pengunjung. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Pedagang menyebut perubahan kebiasaan belanja online menjadi salah satu penyebab berkurangnya pengunjung. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Sebagian pedagang mencoba beradaptasi dengan memanfaatkan penjualan daring untuk menjaga pemasukan. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Sebagian pedagang mencoba beradaptasi dengan memanfaatkan penjualan daring untuk menjaga pemasukan. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Pasar Ular dahulunya pernah menjadi ikon bagi warga Jakarta dan sekitarnya untuk berburu pakaian, tas, hingga sepatu dengan harga terjangkau.

Pasar Ular dahulunya pernah menjadi ikon bagi warga Jakarta dan sekitarnya untuk berburu pakaian, tas, hingga sepatu dengan harga terjangkau.

Pedagang merapihkan barang yang dijualnya di Pasar Ular, Jakarta, Jumat (17/4/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Pasar Ular di Jakarta Utara kini tampak lengang dan tidak seramai sebelumnya. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Banyak kios-kios pedagang yang terpaksa tutup karena kondisinya yang sepi. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Pedagang banyak yang hanya duduk-duduk di depan kios menunggu pembeli. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Kondisi sepi mulai dirasakan pedagang sejak masa pandemi Covid-19. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Penurunan jumlah pengunjung berdampak langsung pada pendapatan yang berkurang hingga 50%. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Pedagang menyebut perubahan kebiasaan belanja online menjadi salah satu penyebab berkurangnya pengunjung. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Sebagian pedagang mencoba beradaptasi dengan memanfaatkan penjualan daring untuk menjaga pemasukan. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Pasar Ular dahulunya pernah menjadi ikon bagi warga Jakarta dan sekitarnya untuk berburu pakaian, tas, hingga sepatu dengan harga terjangkau.

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pasar Ular di Jakarta Utara pernah menjadi ikon bagi warga Jakarta dan sekitarnya untuk berburu pakaian, tas, hingga sepatu dengan harga terjangkau. Namun, kini suasana pasar tersebut tampak lengang dan tidak seramai sebelumnya.

Kondisi sepi mulai dirasakan pedagang sejak masa pandemi Covid-19. Penurunan jumlah pengunjung berdampak langsung pada pendapatan yang berkurang hingga separuhnya.

“Semenjak Covid tuh sepi terus kan ada online-online itu kan tambah turun bisa sampai 50%,” ungkap Neni (55) yang telah berjualan di Pasar Ular semenjak tahun 1985.

Joy, pedagang jaket di lokasi yang sama, turut merasakan penurunan serupa. Ia menyebut perubahan kebiasaan belanja online menjadi salah satu penyebab berkurangnya pengunjung.

“Alhamdullilah sekarang acak kadut, bukannya gak bersyukur tapi semuanya rata anjlok, itu banyak yang tutup terakhir pandemi, sebelum-sebelumnya ramai tapi kan tahu sejak ada online anjlok 50%, sekarang mah berdoa jualannya, harus kuat berdoanya,” kata Joy (64) saat berbincang dengan Bloomberg Technoz, Jumat (17/4).

Perubahan tren belanja ke pusat perbelanjaan modern dan belanja online turut memengaruhi kondisi pasar. Sebagian pedagang mencoba beradaptasi dengan memanfaatkan penjualan daring untuk menjaga pemasukan.

“Kalau ga online anyep bang pasar ini,” celetuk Yanti, pedagang pakaian di lorong Pasar Ular.

(dre/ain)