Kinerja positif juga tercermin dari peningkatan pemanfaatan instrumen lindung nilai syariah yang tumbuh 86,5% yoy menjadi US% 466 juta. Di sektor keuangan sosial, penyaluran ZIS melalui BAZNAS hingga kuartal II-2025 mencapai Rp52,5 triliun, meningkat 43% (ytd) dibandingkan 2024 sebesar Rp36,8 triliun.
Inovasi blended finance melalui Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS) juga tumbuh 22% yoy dengan outstanding akhir 2025 sebesar Rp1,4 triliun. Peningkatan kinerja tersebut turut ditopang oleh penguatan literasi ekonomi dan keuangan syariah yang kini mencapai 50,18%, hampir dua kali lipat dibandingkan 2023.
Melalui implementasi Blueprint Eksyar 2030 yang berfokus pada penguatan rantai nilai halal, optimalisasi pembiayaan, serta perluasan literasi dan inklusi, Bank Indonesia bersama OJK dan seluruh pemangku kepentingan berkomitmen mempercepat transformasi sektor syariah sebagai pilar pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya tahan.
Sementara dari sisi industri jasa keuangan, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyampaikan industri perbankan syariah mencatat kinerja positif sepanjang 2025.
Total aset mencapai all time high atau tertinggi sepanjang masa pada posisi Rp1.067,73 triliun atau tumbuh 8,92% yoy. Sisi pembiayaan juga menunjukkan kinerja baik dengan nilai pembiayaan mencapai Rp705,22 triliun atau tumbuh 9,58% yoy.
Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp892,99 triliun atau tumbuh 10,14% yoy. OJK optimis tren positif ini berlanjut pada 2026, seiring prospek pertumbuhan ekonomi nasional, dengan tetap mencermati risiko geopolitik dan ketidakpastian global.
“Momentum ini menjadi modal penting untuk membangun industri perbankan syariah yang semakin resilient dan sustain," tutur Dian.
(mfd/del)





























