Logo Bloomberg Technoz

Harga Saham Mendadak Jatuh

Fenomena ini kerap terjadi pada saham IPO. Setidaknya ada dua ciri utama saham IPO yang sedang 'digoreng'.

Pertama, saham tersebut anjlok antara 70% hingga 80% sejak harga tertingginya. Kedua, penurunan umumnya terjadi kurang dari satu tahun, bahkan ada yang hanya dalam waktu dua bulan, saham tersebut sudah lebih dulu masuk tren penurunan.

Dari situ terlihat, ada pembeda yang jelas antara saham yang sedang digoreng dengan saham yang mampu bertahan dalam fase uptrend.

Pump & Dump

Saham gorengan jenis ini umumnya memiliki ciri khas berupa akselerasi kenaikan harga dalam waktu singkat. Setelah mencapai titik tertingginya, saham kembali anjlok.

Penurunannya bahkan bisa mencapai 80% hingga 90% kurang dari sebulan sejak mencapai harga tertingginya.

Saham Delisting

Saham yang masuk daftar delisting juga berpotensi sebagai saham gorengan. Sebab, saham ini cenderung dikerek naik, sebelum akhirnya kembali jatuh antara 80%-90% meski proses delisting bisa membutuhkan waktu enam hingga tujuh tahun.

Nilai Transaksi Mendadak Hilang

Ciri saham gorengan berikutnya bisa tercermin dari pergerakan nilai transaksi.

Ada saham yang nilai transaksinya meroket 200% hingga 1.500%, kemudian mendadak nilai transaksinya berkurang hingga 90%.

Jika ada saham dengan pergerakan seperti itu, hampir bisa dipastikan itu adalah saham gorengan.

Free Float Tinggi

BEI sejauh ini memang tidak menentukan batas maksimal free float. Namun, jika ada saham yang memiliki free float 80% atau bahkan 100%, maka ini menjadi kandidat kuat saham gorengan.

Free Float Rendah

Saham dengan free float rendah juga rawan menjadi saham gorengan. Ada seumlah saham yang semula memiliki free float 19%, kemudian berkurang hingga hanya tersisa kurang dari 1%.

Sedikitnya suplai saham membuat harga lebih mudah untuk dimanipulasi.

 

(red)

No more pages