Logo Bloomberg Technoz

BEI Terbuka Berdiskusi dengan Emiten Soal Free Float

Artha Adventy
13 February 2026 08:55

Pengunjung di depan layar pergerakan harga saham (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (29/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Pengunjung di depan layar pergerakan harga saham (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (29/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan komitmennya melakukan pembenahan menyeluruh di tengah gejolak pasar menyusul evaluasi dari MSCI. Pjs. Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan kondisi turbulensi justru menjadi momentum untuk mendorong reformasi struktural agar pasar lebih transparan dan dalam.

Ia menjelaskan, sejak publikasi MSCI pada 28 Januari yang memutuskan pembekuan serta potensi penurunan status Indonesia, BEI telah melakukan serangkaian pertemuan lanjutan dengan MSCI pada awal Februari. Bursa juga menyampaikan proposal perbaikan tidak hanya kepada MSCI, tetapi juga kepada FTSE Russell.

Menurut Jeffrey, terdapat empat langkah utama yang disiapkan. Pertama, peningkatan keterbukaan melalui pengungkapan nama pemegang saham di atas 1%. Kedua, penyajian data investor yang lebih granular dari sembilan tipe menjadi 28 sub-tipe, khususnya untuk kategori korporasi dan lainnya.


Ketiga, penyesuaian ketentuan minimum free float dari 7,5% menjadi 15% agar pasar lebih dalam. Keempat, penerbitan daftar shareholders concentration untuk mengidentifikasi saham dengan kepemilikan yang terkonsentrasi.

Terkait kenaikan free float menjadi 15%, Jeffrey mengakui terdapat 268 dari total 956 emiten yang masih berada di bawah ambang tersebut. Namun, sekitar 49 perusahaan telah mewakili 90% kapitalisasi pasar dalam kelompok itu. BEI, kata dia, membuka ruang diskusi dengan emiten untuk mengatur waktu penambahan saham beredar agar tidak mengganggu stabilitas pasar.