Inggris Sebut Pimpinan Oposisi Rusia Diracun Katak Ekuador
News
15 February 2026 11:15

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pemimpin oposisi Rusia Alexei Navalny tewas diracuni dengan racun mematikan yang ditemukan di kulit katak panah (dart frog) Ekuador, kata Kantor Kementerian Luar Negeri (Foreign Office) Inggris pada Sabtu (14/2/2026).
Toksin tersebut, epibatidine, ditemukan dalam sampel dari tubuh Navalny dan “sangat mungkin menyebabkan kematiannya,” menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper pada Konferensi Keamanan Munich.
“Hanya negara Rusia yang memiliki sarana, motif, dan kesempatan untuk menggunakan racun mematikan ini untuk menargetkan Navalny selama masa penahanannya di sebuah penjara Rusia di Siberia, dan kami menganggap Rusia bertanggung jawab atas kematiannya,” bunyi pernyataan tersebut.
Navalny, lawan politik paling terkemuka Presiden Rusia Vladimir Putin, meninggal pada Februari 2024 pada usia 47 tahun di sebuah penjara tempat dia menjalani hukuman 19 tahun atas tuduhan ekstremisme. Para pendukungnya dan pemerintah negara-negara Barat menyalahkan Istana Kepresidenan Rusia alias Kremlin terhadap kematiannya.
Pernyataan bersama (joint statement)—yang dikeluarkan Swedia, Prancis, Belanda, dan Jerman —mengatakan bahwa Rusia sudah “dengan berani” mengembangkan dan menyebarkan racun tersebut, melanggar Konvensi Senjata Kimia (Chemical Weapons Convention/CWC).































