Spekulasi akan turunnya suku bunga AS membuat pasar melihat peluang normalisasi kebijakan yang dilakukan oleh Bank of Japan, dan membuat diferensial imbal hasil menjadi kian sempit. Mungkin ini yang mendorong pembelian yen secara agresif oleh investor.
Penguatan rupiah sore ini memang tidak sebesar yen. Pergerakan ini agaknya merefleksikan sikap hati-hati investor terhadap aset domestik mengingat kondisi fundamental ekonomi dan dinamika kebijakan domestik yang masih jadi concern para pelaku pasar.
Di satu sisi, bagi investor global imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia masih begitu kompetitif di atas 6%, bahkan imbal hasil tenor pendek juga diganjar 5%. Dari pasar obligasi reli masih berlanjut hingga sore ini dan membuat imbal hasil surat utang makin terpangkas.
Imbal hasil tenor 2Y terpangkas 2,3 basis poin (bps) ke 5,12%, tenor 4Y susut 3 bps menjadi 5,79%, tenor 5Y susut 2,1 bps ke 5,75%, tenor 10Y susut 1,7 bps menjadi 6,43%. Secara umum, imbal hasil obligasi ini menunjukkan bahwa aset berdenominasi rupiah masih diganjar mahal oleh investor.
Pelaku pasar masih akan mencermati arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia, ketahanan konsumsi domestik, serta arus masuk dana asing ke pasar obligasi domestik. Jika imbal hasil US Treasury 10Y yang susut 3,9 bps ke 4,13% semakin turun lebih dalam maka rupiah berpotensi melanjutkan penguatan.
(dsp/aji)






























