"Satu negara memang tidak bisa menghentikan sebuah program secara sepihak, namun mereka dapat memberikan suara sesuai dengan posisi kebijakan mereka untuk mengirimkan pesan kepada institusi dan anggota lainnya," ujar Mary Svenstrup, mantan direktur senior di Dewan Keamanan Nasional yang kini bergabung di Center for Global Development.
Fasilitas RST sendiri didanai oleh anggota IMF yang lebih kaya dan ditujukan untuk pembiayaan reformasi struktural jangka panjang, dengan fokus pada perubahan iklim serta kesiapsiagaan menghadapi pandemi. Data IMF menunjukkan bahwa lebih dari 20 negara telah dijanjikan total dana sekitar US$14 miliar melalui fasilitas ini.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan tahun lalu bahwa IMF telah "menghabiskan waktu dan sumber daya yang tidak proporsional untuk isu-isu perubahan iklim, gender, dan masalah sosial." Menurutnya, IMF seharusnya kembali ke peran utamanya sebagai stabilisator ekonomi.
"Pemerintahan saat ini percaya bahwa IMF telah melangkah terlalu jauh dalam isu iklim, yang tercermin dalam keberadaan RST," ungkap Mark Sobel, yang pernah mengabdi di Departemen Keuangan AS selama hampir empat dekade, termasuk menjabat sebagai perwakilan AS di IMF.
Tahun ini, IMF dijadwalkan untuk melakukan "tinjauan komprehensif" terhadap RST. Menurut Sobel, lembaga tersebut kemungkinan akan memutuskan untuk membubarkan unit tersebut dan memasukkan pertimbangan iklim ke dalam program-program tradisional yang lebih luas.
(bbn)































