Bret Kenwell dari eToro menilai laporan ritel ini "bukanlah sebuah bencana," namun juga bukan sinyal yang konstruktif, terutama di tengah kekhawatiran pasar tenaga kerja dan volatilitas aset. Menurutnya, laporan pekerjaan nanti akan menjadi kunci. "Data yang lemah dapat mendorong sentimen ke arah risk-off jika kekhawatiran pertumbuhan mulai menumpuk," tambahnya.
Para ekonom memprediksi kenaikan 65.000 pekerjaan pada Januari, yang jika terealisasi, akan menjadi capaian terbaik dalam empat bulan. Tingkat pengangguran diperkirakan bertahan di angka 4,4%. Selain itu, akan ada revisi tahunan pada data ketenagakerjaan yang diperkirakan mengungkap koreksi penurunan angka payrolls untuk periode satu tahun hingga Maret 2025.
Di pasar keuangan, imbal hasil Treasury 10-tahun turun enam basis poin ke level 4,14%. Mata uang dolar AS terpantau fluktuatif, sementara Yen memimpin penguatan di antara mata uang G-10 terhadap greenback. Di pasar kripto, Bitcoin merosot ke bawah level US$70.000.
Mengenai kebijakan moneter, Gubernur The Fed Cleveland Beth Hammack menyatakan suku bunga bisa ditahan lebih lama sementara pejabat mengevaluasi data ekonomi. Rekannya dari The Fed Dallas, Lorie Logan, berharap inflasi terus turun, meski ia menekankan perlu adanya pelemahan "material" di pasar tenaga kerja untuk mendukung pemangkasan suku bunga lebih lanjut.
Pasar swaps masih mengindikasikan bahwa para pembuat kebijakan akan mempertahankan suku bunga dalam pertemuan bulan depan, tetap di kisaran 3,5% hingga 3,75%. Namun, Mark Haefele dari UBS Global Wealth Management tetap optimis. "Kami memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga masing-masing sebesar 25 basis poin tahun ini. Pertumbuhan ekonomi yang solid, sebagian didorong oleh kenaikan produktivitas, tetap menyokong laba korporasi."
CEO Goldman Sachs Group Inc, David Solomon, menilai aksi jual tajam pada saham perangkat lunak (software) pekan lalu akibat kekhawatiran persaingan AI kemungkinan besar berlebihan. Ia tetap yakin ekonomi AS berada di jalur pertumbuhan yang kuat tahun ini.
"Saya rasa narasi selama sepekan terakhir terlalu digeneralisir," ujar Solomon dalam konferensi UBS di Florida. "Akan selalu ada pihak yang menang dan kalah—banyak perusahaan akan mampu beradaptasi dan tetap baik-baik saja."
(bbn)































