Dalam pengarahan media, Robinson menegaskan bahwa arah kebijakan akan sangat bergantung pada data ekonomi terbaru, mengingat ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi.
Mata uang Dolar Singapura terpantau bergerak stabil, sementara indeks saham acuan Straits Times Index (STI) terkoreksi tipis 0,2% pada pembukaan perdagangan.
Kementerian perdagangan menyebutkan bahwa kepopulern AI yang berkelanjutan, kebijakan fiskal ekspansif di sejumlah negara—termasuk Amerika Serikat, Jerman, dan Jepang—serta kondisi keuangan global yang akomodatif akan menopang pertumbuhan ekonomi dunia.
Namun, Perdana Menteri Lawrence Wong memperingatkan bahwa Singapura akan menghadapi tantangan berat untuk mempertahankan laju pertumbuhan setinggi ini di tengah retaknya hubungan dan perdagangan global. PM Wong dijadwalkan akan mengumumkan pembaruan strategi ekonomi saat memaparkan anggaran tahun 2026 pada hari Kamis mendatang.
Pada kuartal terakhir tahun lalu, PDB Singapura tercatat melesat 6,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini melampaui median survei Bloomberg sebesar 6,5% dan estimasi awal pemerintah yang hanya 5,7%.
"Momentum pertumbuhan yang lebih kuat dari perkiraan pada kuartal terakhir 2025 diproyeksikan akan berlanjut hingga 2026," tulis MTI dalam pernyataan resminya.
Tren positif ini juga mendongkrak pertumbuhan PDB sepanjang tahun 2025 menjadi 5%, melampaui estimasi awal pemerintah sebesar 4,8%. Meski demikian, angka tersebut masih menunjukkan perlambatan dibandingkan pertumbuhan tahun 2024 yang direvisi menjadi 5,3%.
Fenomena ini tidak hanya dirasakan Singapura. Negara tetangga seperti Vietnam dan Malaysia juga terpantau mampu mengabaikan dampak kenaikan tarif AS berkat tingginya permintaan perangkat elektronik global.
(bbn)
































