Berdasarkan data indikator yang digunakan BI, dia menyebutkan, sejumlah variabel perlu terus didorong untuk tumbuh, misalnya pertumbuhan kredit yang masih berada di bawah level optimal.
"Penilaian BI tetap data dependen (bergantung pada data indikator ekonomi). Sampai saat ini, semua variabel masih mengarah pada stance pro-growth," kata dia. "So far dari indikator kami belum menunjukkan bahwa harus mengganti stance. karena semua variabel ini masih perlu kita dorong."
Tak hanya itu, lanjut dia, banyak program pemerintah yang dapat diutilisasi untuk mempercepat pertumbuhan kredit, dan akhirnya mendongkrak pertumbuhan ekonomi.
"Sejauh ini belum membuat kita keluar dari range itu. Apakah bisa berubah lagi? bisa saja, tapi data dependen. Sejauh datanya tidak memaksa kita dengan cepat, kita juga harus bisa adaptif untuk menjaga stabilitas," tutur dia.
Moody’s tetap mempertahankan peringkat Baa2 untuk utang jangka panjang Indonesia dalam mata uang lokal dan asing, dua tingkat di atas status non-investment grade. Meski masih masuk dalam level investment grade, penurunan outlook membawa dampak signifikan terhadap aset keuangan Tanah Air, karena menyangkut kredibilitas dan kepercayaan publik.
Perubahan outlook Moody’s menjadi negatif ini semakin mempertegas kekhawatiran bahwa ketidakpastian arah kebijakan dapat menggerus kepercayaan investor.
Bagi pasar surat utang, risiko fiskal yang tidak diimbangi reformasi penerimaan negara akan mendorong kenaikan yield dan mempersempit basis investor jangka panjang. Sementara bagi pasar saham, ancaman MSCI untuk menurunkan bobot Indonesia, bahkan hingga status frontier market, berarti risiko kehilangan akses ke kantong dana institusional global yang selama ini menjadi penopang stabilitas arus masuk portofolio.
(wep)




























