Namun, penurunan harga properti dan pasar tenaga kerja menghambat konsumsi. Dana Moneter Internasional (IMF) sebelumnya menyebut sektor jasa sebagai "penggerak pertumbuhan China yang kurang dimanfaatkan," yang memberi kontribusi terhadap nilai tambah jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata ekonomi maju sekitar 75%.
Meski demikian, sektor jasa, mulai dari restoran hingga pariwisata dan hiburan, menonjol karena ketahanannya saat sebagian besar ekonomi konsumen stagnan dan konsumen menjadi lebih hemat. Penjualan ritel di sektor jasa tumbuh 5,5% tahun lalu, dibandingkan dengan kenaikan 3,8% untuk penjualan barang.
Survei terbaru People’s Bank of China (PBOC) menunjukkan bahwa rumah tangga semakin bersedia menghabiskan uang untuk jasa, dengan memilih pendidikan, kesehatan, dan perjalanan sebagai tiga bidang utama di mana mereka berencana meningkatkan belanja dalam tiga bulan ke depan.
Meski momentum ekonomi melemah, pembuat kebijakan menunjukkan sedikit tanda-tanda akan meluncurkan stimulus besar-besaran karena mereka terus berjuang melawan risiko terkait utang pemerintah daerah.
Beijing bahkan mungkin akan menurunkan target pertumbuhan ekonomi nasional untuk kali pertama dalam empat tahun. Presiden Xi Jinping telah memberikan sinyal toleransi yang lebih besar terhadap pertumbuhan lebih lambat di beberapa wilayah.
(bbn)































