Logo Bloomberg Technoz

"Sebagian besar negosiasi perdagangan telah diselesaikan, dengan Kanada, dengan UE, dengan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU), dan kami sedang dalam proses menyelesaikan perjanjian perdagangan dengan Amerika Serikat," ungkap Airlangga, Selasa (3/2/2026).

Menurut Airlangga, keberhasilan tersebut memperluas ruang bagi arus modal masuk, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Upaya ini juga berjalan seiring dengan agenda transisi energi dan penguatan sektor hijau yang kini menjadi perhatian utama investor global.

Ia menambahkan bahwa Indonesia bersama negara G20 telah memperoleh komitmen pendanaan Just Energy Transition Partnership sebesar USD 21,4 miliar, dengan realisasi sekitar USD 3,5 miliar. Selain itu, Australia juga menyatakan minat investasi lanjutan di Indonesia, sementara kerja sama regional terus diperluas.

Di kawasan Asia Tenggara, pemerintah mendorong kolaborasi dengan Sarawak Air Malaysia untuk meningkatkan konektivitas transportasi, khususnya menuju destinasi wisata di luar Jakarta dan Bali. Kerja sama strategis dengan Singapura juga terus dikembangkan, terutama dalam pengelolaan kawasan ekonomi khusus dan transformasi digital.

“Ini berarti ada banyak modal dalam pipeline yang siap untuk diinvestasikan di Indonesia," katanya.

Selain kerja sama internasional, reformasi domestik juga menjadi sorotan. Airlangga menyampaikan bahwa Indonesia baru saja meluncurkan agenda reformasi pasar modal dengan empat pilar utama, yakni efisiensi, transparansi, tata kelola, dan penegakan hukum. Langkah ini bertujuan memperkuat kepercayaan investor terhadap pasar keuangan nasional.

“Hingga pagi ini, pasar modal telah kembali ke zona hijau, yang menandakan respons pasar yang positif," ungkapnya.

IES 2026 dan Upaya Membangun Kepercayaan Investor

Ketua Dewan Pengawas Indonesia Business Council Arsjad Rasjid menilai Indonesia Economic Summit 2026 memiliki peran strategis dalam membangun dan menjaga kepercayaan investor global. Menurutnya, dunia saat ini dihadapkan pada situasi yang penuh dengan ketidakpastian berlapis, sehingga forum dialog menjadi semakin penting.

“Tujuan kami adalah memastikan Indonesia tetap atraktif, kompetitif, dan produktif. Fokus kami tertuju pada tiga pilar utama yakni Kepastian (Certainty), Kapabilitas (Capability), dan Modal (Capital),” tegas Arsjad.

IES 2026 tidak hanya menjadi ajang diskusi, tetapi juga melahirkan berbagai inisiatif konkret. Salah satunya adalah peluncuran Business 57+ Asia-Pacific Regional Chapter, yang diarahkan untuk memperkuat konektivitas ekonomi antarnegara Islam dan mitra strategisnya di kawasan Asia Pasifik.

Presiden Islamic Chamber of Commerce and Development Abdullah Saleh Kamel menegaskan bahwa inisiatif B57+ memiliki visi jangka panjang yang melampaui kepentingan ekonomi semata. Menurutnya, sektor usaha dan keuangan dapat memainkan peran sentral dalam mendorong kesejahteraan global.

”Dunia usaha, investasi, perdagangan, dan keuangan, dapat memainkan peran utama dalam memajukan masyarakat kita. Visi ini sejalan dengan komitmen para pemimpin politik di negara-negara seperti Arab Saudi, Indonesia, Malaysia, Turki, dan Pakistan yang secara aktif berupaya memberdayakan sektor swasta melalui reformasi legislatif dan infrastruktur digital,” kata Abdullah Saleh Kamel.

Dari sisi analisis ekonomi, Chief Economist Indonesian Business Council Denni Purbasari menilai karakteristik Indonesia sebagai negara demokrasi dengan populasi muda menjadi daya tarik yang sulit diabaikan investor global. Dengan pertumbuhan ekonomi stabil di kisaran 5,1 hingga 5,2 persen, Indonesia menawarkan kombinasi stabilitas dan potensi.

“Komitmen pemerintah terhadap openness dan reform, kestabilan ekonomi makro dan politik, menjadi faktor yang menarik bagi investor asing untuk masuk, baik melalui direct investment maupun portofolio,” kata Denni.

Ia menambahkan bahwa program prioritas pemerintah seperti ketahanan pangan, energi, dan kesehatan membuka ruang kemitraan baru. Peluang investasi tidak hanya terbatas pada rantai pasok kendaraan listrik, tetapi juga mencakup sektor pertanian, perikanan, energi terbarukan, jasa keuangan, hingga pendidikan dan vokasi.

Indonesia Economic Summit sendiri merupakan forum ekonomi tahunan yang diselenggarakan Indonesian Business Council untuk membahas tren ekonomi global, prioritas strategis nasional, serta posisi Indonesia dalam rantai pasok dunia. Pada penyelenggaraan 2026, forum ini menghadirkan delegasi dari lebih dari 50 negara.

Kehadiran perwakilan pemerintah, pelaku usaha, investor global, dan organisasi internasional dari berbagai kawasan seperti Asia, Eropa, hingga Asia Tengah menjadi indikator bahwa minat terhadap pasar Indonesia masih terjaga. Di tengah dinamika global yang penuh tantangan, Indonesia terus berupaya memantapkan diri sebagai magnet investasi yang stabil dan berjangka panjang.

(red)

No more pages