Logo Bloomberg Technoz

Kilang Balongan Dorong Hilirisasi Migas Nasional


(Dok. Kilang Pertamina)
(Dok. Kilang Pertamina)

Bloomberg Technoz, Jakarta - PT Kilang Pertamina Internasional Unit Balongan menegaskan perannya tidak hanya sebagai tulang punggung penyedia energi nasional, tetapi juga sebagai penggerak utama hilirisasi industri minyak dan gas bumi. Melalui pemanfaatan teknologi pengolahan yang terintegrasi, Kilang Balongan mampu mengubah residu minyak bernilai rendah menjadi produk petrokimia bernilai tinggi untuk industri dalam negeri.

Hilirisasi yang dijalankan di Kilang Balongan menjadi contoh konkret transformasi sektor migas nasional. Kilang ini tidak lagi sekadar memproduksi bahan bakar, tetapi juga menghasilkan produk antara dan petrokimia yang menjadi bahan baku penting bagi berbagai sektor industri, mulai dari medis hingga kemasan pangan.

Keunggulan hilirisasi tersebut bertumpu pada sinergi dua unit utama, yakni Residue Catalytic Cracking dan Propylene Olefin Complex. Kedua unit ini bekerja secara berkesinambungan untuk mengolah residu minyak berat menjadi produk turunan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan berdaya saing.

Unit RCC berperan dalam mengolah residu minyak berat menjadi produk antara. Selanjutnya, produk tersebut diproses lebih lanjut di Unit POC untuk menghasilkan propylene. Produk ini kemudian dialirkan secara efisien melalui jaringan pipa menuju PT Polytama Propindo untuk diolah menjadi biji plastik polypropylene.

Produk polypropylene tersebut menjadi bahan baku penting bagi berbagai industri strategis. Pemanfaatannya mencakup sektor medis, industri kemasan pangan, hingga kebutuhan plastik lainnya yang selama ini masih banyak bergantung pada impor.

Fakta tersebut disampaikan langsung oleh General Manager Kilang Balongan, Yulianto Triwibowo, dalam sambutan pembukaan kegiatan kunjungan kerja dan monitoring Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi di Kilang Balongan. Kegiatan tersebut berlangsung pada Minggu, 25 Januari.

Yulianto menjelaskan bahwa operasional Unit POC merupakan kunci utama keberhasilan peningkatan nilai tambah di Kilang Balongan. Ia menegaskan bahwa secara keseluruhan, kilang beroperasi dengan andal dan stabil dalam menjaga pasokan energi nasional.

“Meski cuaca ekstrem disertai angin yang menantang, operasional unit-unit kunci ini kami pastikan tetap berjalan andal," ujar Yulianto.

Ia juga menyampaikan bahwa Kilang Balongan saat ini beroperasi dengan kapasitas pengolahan mencapai 150.000 barel per hari. Kapasitas tersebut dinilai cukup strategis dalam menjaga ketersediaan energi nasional, sekaligus mendukung program hilirisasi industri migas.

Dukungan Pemerintah dan Optimisme Swasembada Energi

(Dok. Kilang Pertamina)

Dalam kunjungan tersebut, Anggota Komite BPH Migas, Fathul Nugroho, memberikan apresiasi atas kinerja dan peran strategis Kilang Balongan. Menurutnya, keberadaan kilang ini memperkuat argumen pemerintah terkait pentingnya kemandirian energi dan industri nasional.

Fathul menilai bahwa apa yang dilakukan Kilang Balongan merupakan bukti nyata upaya pemerintah dalam mewujudkan swasembada energi. Hilirisasi yang dijalankan dinilai mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor, baik bahan bakar maupun produk petrokimia.

Selain mengapresiasi kontribusi Kilang Balongan terhadap industri petrokimia nasional, Fathul juga menyampaikan target pemerintah terkait pengurangan impor energi. Ia mengungkapkan bahwa pemerintah menargetkan Indonesia dapat menghentikan impor solar pada semester kedua tahun 2026.

“Apa yang kita lihat di Balongan hari ini memberikan optimisme besar. Dengan hilirisasi yang matang, kita tidak hanya swasembada BBM, tapi juga memperkuat struktur industri nasional kita," tegas Fathul.

Pandangan tersebut sejalan dengan pernyataan Tenaga Ahli Menteri ESDM bidang Pengawasan dan Monitoring Pembangunan Infrastruktur Migas, Anggawira. Ia menekankan bahwa praktik hilirisasi di Kilang Balongan merupakan perwujudan langsung dari visi Presiden Prabowo dalam menjaga kemandirian bangsa.

"Pertamina adalah wajah Indonesia. Di era kepemimpinan Presiden Prabowo, ketahanan energi dan hilirisasi adalah hal yang utama. Kilang Balongan membuktikan bahwa anak bangsa mampu menguasai teknologi pengolahan yang kompleks dari hulu hingga ke hilir," kata Anggawira.

Anggawira menilai keberhasilan Kilang Balongan menjadi simbol kemampuan sumber daya manusia nasional dalam mengelola teknologi migas berstandar tinggi. Hal ini dinilai penting untuk memperkuat kepercayaan diri bangsa dalam mengelola sektor energi secara mandiri.

Di sisi lain, tantangan teknis dalam pengolahan minyak mentah dengan karakteristik beragam juga menjadi perhatian. Direktur Optimasi Feedstock dan Produk KPI, Erwin Suryadi, memaparkan bahwa fleksibilitas kilang dalam mengolah berbagai jenis minyak mentah menjadi keunggulan kompetitif yang signifikan.

Menurut Erwin, kemampuan adaptasi terhadap variasi feedstock memungkinkan kilang tetap optimal dalam berbagai kondisi pasar dan pasokan. Hal ini menjadi modal penting dalam menjaga keberlanjutan operasional dan daya saing industri migas nasional.

Setelah sesi diskusi dan pemaparan, rangkaian kunjungan dilanjutkan dengan site visit ke area kilang. Kunjungan lapangan ini bertujuan untuk melihat secara langsung unit-unit operasional serta proses hilirisasi yang berlangsung di Kilang Balongan.

Sementara itu, Pjs Area Manager Communication, Relation and CSR Kilang Balongan, Rizky Anggia Putri, menyampaikan bahwa pihaknya mendukung penuh fungsi pengawasan yang dilakukan BPH Migas. Menurutnya, sinergi antara regulator dan operator menjadi kunci kepercayaan publik.

“Sinergi antara regulator dan operator ini memberikan keyakinan kepada masyarakat bahwa stok BBM nasional dalam kondisi aman dan distribusi tetap terjaga di segala situasi," tutup Rizky.

Dengan penguatan hilirisasi dan dukungan berbagai pihak, Kilang Balongan diproyeksikan terus berperan strategis dalam mendukung ketahanan energi nasional. Keberhasilan ini sekaligus mempertegas posisi KPI sebagai penggerak transformasi industri migas menuju kemandirian dan nilai tambah yang berkelanjutan.