Indeks dolar turun ke level terendah sejak 2022, sedangkan emas menembus angka US$5.000 dan perak melonjak paling tajam sejak 2008. Obligasi pemerintah AS tetap dalam rentang sempit karena Federal Reserve (The Fed) diperkirakan akan menangguhkan pemotongan suku bunga.
Di AS, perusahaan-perusahaan yang mewakili sekitar sepertiga kapitalisasi pasar S&P 500 akan melaporkan kinerja keuangan mereka pekan ini. Investor mencermati apakah belanja besar-besaran kecerdasan buatan (AI) oleh perusahaan mulai memberikan imbal hasil yang lebih besar.
Sejauh ini, menurut analisis JPMorgan Chase & Co, prospek kinerja melampaui ekspektasi di sekitar setengah dari perusahaan S&P 500 yang telah memberikan proyeksi 2026.
"Teknologi kini lebih menjadi cerita yang harus dibuktikan," kata Darrell Cronk, Kepala Investasi, Manajemen Kekayaan, dan Investasi di Wells Fargo, yang mengelola aset senilai US$2,3 triliun.
"Jika perusahaan teknologi besar dapat terus memberikan hasil, saya pikir modal akan mulai mengalir kembali ke sektor teknologi."
Dolar AS ke Level Terendah Sejak 2022
Penguatan nilai yen tetap menjadi sorotan setelah ucapan pejabat Jepang memicu spekulasi bahwa pemerintah mungkin akan campur tangan di pasar untuk mencegah mata uang tersebut kembali melemah. Bagi sebagian pihak, bagaimanapun, reli terbaru ini sebagian menetralkan kemungkinan intervensi.
"Pemulihan drastis yen menunjukkan bahwa intervensi sebenarnya tidak diperlukan," ungkap Marc Chandler dari Bannockburn Capital Markets.
Sementara itu, Trump menyalahkan kenaikan tarif 25% pada barang-barang Korea Selatan dengan kegagalan legislatif negara tersebut untuk mengesahkan perjanjian dagang yang dicapai dengan AS tahun lalu.
Presiden AS meningkatkan ketegangan dagang dengan beberapa sekutu dalam beberapa pekan terakhir, mengancam akan menaikkan bea masuk produk Kanada hingga 100% jika Ottawa menandatangani kesepakatan dagang dengan China, serta mengenakan bea baru pada barang-barang negara-negara Eropa demi menguasai Greenland.
Kenaikan harga saham dan logam mulia seiring dengan penurunan obligasi pemerintah dan pelemahan dolar AS menghidupkan kembali beberapa perdagangan utama tahun lalu. Pasalnya, investor mengabaikan latar belakang makroekonomi yang beragam dan fokus pada kinerja perusahaan yang kuat.
Para pejabat The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga, setelah tiga kali pemotongan berturut-turut pada akhir 2025 karena pasar kerja yang lebih stabil mengembalikan konsensus di bank sentral setelah berbulan-bulan terjadi perpecahan yang semakin besar.
Gubernur Jerome Powell kemungkinan akan menyampaikan pandangannya bahwa kebijakan saat ini moneter sudah tepat, tetapi akan menahan diri agar tidak banyak memberi sinyal tentang arah suku bunga ke depan.
"Meski The Fed diperkirakan tidak akan menurunkan suku bunga, konferensi pers Powell mungkin lebih banyak membahas tentang independensi The Fed daripada kebijakan itu sendiri," ujar Chris Larkin dari E*Trade di Morgan Stanley.
Ekspektasi tentang kebijakan The Fed bergeser seiring dengan perubahan pandangan konsensus tentang siapa yang akan ditunjuk Presiden Donald Trump untuk menggantikan Powell, yang masa jabatannya berakhir pada Mei.
Di sisi lain, jaringan listrik AS menghadapi tekanan yang meningkat setelah badai musim dingin membawa hawa dingin ekstrem dan salju serta es tebal dari Texas hingga Maine. Hal ini menyebabkan sekitar 12% produksi gas alam AS terhenti, sedangkan perkiraan cuaca ekstrem menyebabkan harga melonjak.
Harga gas alam AS melonjak sekitar 30%, sedangkan harga minyak secara umum tidak terpengaruh oleh gejolak terseut berkat prospek pasokan yang membaik dari Kazakhstan.
(bbn)





























