Logo Bloomberg Technoz

Bursa Saham Asia Bersiap Melemah saat Harga Minyak Tembus US$100

News
13 March 2026 06:40

Bursa Asia. (Dok: Bloomberg)
Bursa Asia. (Dok: Bloomberg)

Richard Henderson - Bloomberg News

Bloomberg, Bursa saham dan obligasi di Asia diprediksi akan mengikuti tren pelemahan Wall Street pagi ini. Lonjakan kembali harga minyak mentah memicu kekhawatiran bahwa perang di Iran akan semakin menghambat pasokan energi dan memicu inflasi global.

Kontrak berjangka (futures) untuk pasar Jepang, Hong Kong, dan Australia terpantau kompak melemah. Di AS, indeks S&P 500 merosot 1,5% ke level terendah sejak November. Bahkan investor yang sempat beralih ke saham teknologi raksasa sebagai aset aman pun turut terdampak. Nasdaq 100 turun 1,7% sementara indeks saham megakapitalisasi kini mendekati ambang batas koreksi. Di pasar komoditas, emas sempat anjlok 1,9% sebelum naik tipis pada Jumat pagi.


Pergerakan ini mencerminkan lonjakan harga minyak lainnya. Brent ditutup di atas US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak 2022. Berdasarkan data pelacakan kapal, lalu lintas tanker minyak melalui Selat Hormuz hampir terhenti sepenuhnya, yang mempertegas adanya hambatan besar pada rantai pasok.

Obligasi Australia dibuka melemah pada hari Jumat (13/3) menyusul jatuhnya surat utang AS (Treasury) akibat meningkatnya ekspektasi inflasi. Pelaku pasar kini telah menghapus ekspektasi penurunan suku bunga Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) pada tahun 2026. Imbal hasil (yield) US Treasury 2-tahun yang sensitif terhadap kebijakan naik sembilan basis poin menjadi 3,74%, sementara tenor 10-tahun naik menjadi 4,26%. Di saat yang sama, dolar AS menyentuh level tertinggi dalam dua bulan terakhir.

Grafik harga minyak Brent. (Sumber: Bloomberg)