Logo Bloomberg Technoz

Harga Minyak Naik, Bursa Saham Asia Bersiap Buka di Zona Merah

News
12 March 2026 07:00

Ilustrasi bursa Asia. (Dok: Bloomberg)
Ilustrasi bursa Asia. (Dok: Bloomberg)

Richard Henderson - Bloomberg News

Bloomberg, Bursa saham Asia bersiap dibuka melemah pada perdagangan Kamis (12/3), memperpanjang volatilitas pasar selama sepekan terakhir. Langkah terkoordinasi negara-negara maju untuk melepas cadangan minyak darurat rupanya belum mampu meredam reli harga minyak, sementara jatuhnya harga obligasi pemerintah AS (Treasury) menunjukkan kekhawatiran inflasi masih ada.

Kontrak berjangka (futures) indeks saham di Jepang, Australia, dan Hong Kong semuanya memerah pada awal perdagangan di Asia. Sebelumnya, indeks S&P 500 turun 0,1% pada Rabu, sementara Nasdaq 100 bergerak stagnan. Tren negatif ini berlanjut dengan jatuhnya kontrak ekuitas AS pada Kamis pagi.


Harga minyak mentah AS melampaui US$91 per barel meskipun Badan Energi Internasional (IEA) telah sepakat untuk melepas 400 juta barel dari cadangan darurat—penyaluran terbesar sepanjang sejarah. Jepang sendiri akan melepas 80 juta barel minyak dari cadangan strategisnya.

Reaksi pasar jauh lebih tajam di sektor obligasi. Harga Treasury jatuh secara merata, mendorong imbal hasil (yield) obligasi AS tenor 10-tahun naik tujuh basis poin menjadi 4,23% pada Rabu. Data inflasi yang melandai sebelum pecahnya konflik gagal menenangkan pasar. Investor khawatir lonjakan biaya energi akan memicu kenaikan harga di seluruh sektor ekonomi. Saat ini, para pelaku pasar memprediksi Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) hanya akan memangkas suku bunga satu kali pada tahun ini.

Grafik pergerakan minyak WTI. (Sumber: Bloomberg)