Namun, penguatan rupiah pada awal pekan ini tetap perlu dibaca hati-hati. Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih sensitif terhadap data ekonomi AS dan arus modal asing.
Baru-baru ini, Goldman Sach memperingatkan ada risiko dana asing keluar sebesar US$2,3 miliar dari pasar saham Indonesia setelah MSCI menghitung ulang free float saham Indonesia dengan metolodogi baru.
Melansir Bloomberg News, para strategist Goldman Sach menyebut arus keluar itu lebih besar dari perkiraan sebelumnya yang hanya US$1,8 miliar. Naiknya potensi dana asing keluar ini disebabkan oleh dimasukkannya dampak potensi penghapusan saham dari indeks, khususnya untuk emiten dengan faktor kepemilikan asing di bawah 15% atau kapitalisasi pasar free float yang jatuh di bawah ambang batas indeks MSCI.
Para strategist itu memprediksi arus dana keluar akan mengalir ke beberapa negara seperti China yang akan menerima US$510 juta, disusul Taiwan US$429 juta, serta India dan Korea Selatan masing-masing sekitar US$290 juta.
Di sisi lain, dari dalam negeri, perhatian pasar juga tertuju pada kesinambungan fiskal dan arah belanja pemerintah di awal tahun, ini akan memengaruhi persepsi risiko Indonesia seperti awal tahun yang cukup mengguncang lantara defisit fiskal melebar hampir menyentuh ambang batas di 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
(riset/aji)





























