Kerugian ini terjadi di tengah tahun yang penuh gejolak bagi industri penerbangan India, ditandai dengan kekhawatiran penumpang, penundaan penerbangan, dan pembatalan massal oleh maskapai pesaing yang menyoroti struktur pasar duopoli.
Juru bicara Air India, Tata Group, dan Singapore Airlines tidak menanggapi permintaan komentar melalui email mengenai kerugian tersebut.
Rencana lima tahun baru yang diajukan oleh manajemen memproyeksikan keuntungan hanya pada tahun ketiga, tetapi ditolak oleh dewan direksi, yang meminta upaya pemulihan lebih agresif.
Dokumen pemerintah yang dikumpulkan oleh platform intelijen bisnis Tofler menunjukkan Air India telah merugi 322,1 miliar rupee selama tiga tahun terakhir. Maskapai tersebut meminta dana segar setidaknya 100 miliar rupee tahun lalu, seperti dilaporkan Bloomberg News pada Oktober.
Kerugian yang terus meningkat kini menjadi kekhawatiran bagi kedua pemilik. Tata Group mulai mencari CEO baru untuk menggantikan Campbell Wilson, meski pencarian tersebut mungkin tidak akan selesai hingga laporan kecelakaan dirilis.
Singapore Airlines Ltd, yang memegang saham 25,1% setelah menggabungkan Vistara dengan Air India pada 2024, menilai laba bersihnya sendiri tertekan oleh kinerja maskapai tersebut, bahkan saat membantu Air India mengelola pemeliharaan pesawat sendiri sebagai bagian dari rencana restrukturisasi.
(bbn)





























