Logo Bloomberg Technoz

Selain itu, meredanya ketegangan dagang AS–Eropa juga telah memperkecil kebutuhan dolar sebagai aset aman (safe haven), hal ini mulai kembali mendorong pergeseran dana ke pasar negara berkembang yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

Di balik sentimen global yang mulai agak ramah ini, kondisi makroekonomi Indonesia masih menyisakan tantangan struktural bagi rupiah. Kinerja neraca eksternal belum sepenuhnya kuat, dengan risiko pelebaran defisit transaksi berjalan seiring perlambatan ekspor dan tetap tingginya ketergantungan terhadap impor, terutama barang modal dan energi. 

Dari sisi fiskal, kebutuhan pembiayaan pemerintah yang besar membuat pasar keuangan domestik masih bergantung pada aliran dana asing, khususnya di pasar Surat Utang Negara. Melansir data DJPPR Kementerian Keuangan, per 31 Desember 2025, total utang pemerintah (outstanding) dalam bentuk SUN yang berdenominasi dolar AS berikut dengan kupon yang harus dibayar sebesar US$94,76 miliar, setara dengan Rp1.584,4 triliun menggunakan kurs Rp16.720/US$. 

Ketergantungan ini menjadikan rupiah sensitif terhadap perubahan sentimen global dan arah suku bunga AS. Selama arus modal portofolio menjadi penopang utama stabilitas nilai tukar, setiap pembalikan sentimen global berpotensi langsung menekan rupiah.

Bank Indonesia memang memiliki ruang kebijakan untuk meredam volatilitas melalui stabilisasi di pasar valas dan pengelolaan likuiditas. Namun, stabilitas jangka menengah rupiah tidak cukup ditopang oleh intervensi moneter semata.

Penguatan nilai tukar yang berkelanjutan membutuhkan dukungan fundamental berupa perbaikan struktur ekspor, pengendalian impor, serta konsistensi kebijakan fiskal yang menjaga kepercayaan investor.

(riset/aji)

No more pages