"Strategi ini hanya akan dipercaya pasar jika indikator bergerak serempak; rupiah stabil, yield menurun, bunga kredit baru turun, undisbursed loan menyusut, dan kredit UMKM kembali tumbuh," tegasnya.
Sebagai catatan saja, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) siang ini memimpin penguatan Asia. Setelah jatuh ke posisi terendahnya (all time low), akhirnya rupiah bergerak menguat 0,18% ke Rp16.904/US$.
Rupiah mendapat dukungan dari Bank Indonesia dengan komitmen stabilisasi nilai tukar dalam pengumuman BI-rate kemarin. Penetapan BI rate di posisi yang sama dengan sebelumnya sebesar 4,75% ditangkap positif oleh pelaku pasar sebagai sinyal kebijakan yang mendukung stabilitas.
Meski begitu, BI juga tidak menutup mata terhadap pelemahan ekonomi yang sedang terjadi dan akan mengupayakan pelonggaran di waktu yang tepat saat rupiah berada dalam kondisi stabil.
Di sisi lain, Gubernur BI Perry Warjiyo menyebutkan, nilai fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) yang tercatat hingga Desember 2025 mencapai Rp2.439 triliun atau 22,12% dari plafon kredit yang tersedia. Jumlah ini cukup besar meskipun ada tren peningkatan permintaan kredit.
"Pelaku usaha terus perlu didorong untuk ekspansi dengan manfaatkan fasilitas pinjaman yang belum digunakan tercatat masih cukup besar," kata Perry dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur BI Edisi Januari 2026, Rabu (21/1/2026).
Padahal bank-bank domestik memiliki kapasitas pembiayaan bank ditopang oleh rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 28,57% dan dana pihak ketiga (DPK) yang tumbuh tinggi sebesar 13,83% (yoy) pada Desember 2025.
Sementara itu, dari sisi penyaluran kinerja kredit perbankan sepanjang 2025 tercatat tumbuh 9,69% secara tahunan atau year-on-year (yoy). Angka ini berada di rentang bawah target pertumbuhan kredit yang ditetapkan BI di kisaran 8%-11%.
"Menurut kelompok penggunaan, pertumbuhan kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi pada 2025 masing-masing tercatat 21,06% (yoy), 4,52% (yoy), dan 6,58% (yoy)," ujar Perry.
Untuk diketahui, BI mengguyur perbankan nasional dengan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) mencapai Rp397,9 triliun sampai periode minggu pertama Januari 2026.
Pemberian insentif tersebut diutamakan bagi perbankan yang lebih cepat dalam menurunkan suku bunga kredit, yang sejalan dengan kebijakan penurunan suku bunga acuan (BI Rate).
"Implementasi penguatan KLM yang berlaku pada 16 Desember 2025 diarahkan untuk mempercepat penurunan suku bunga kredit/pembiayaan perbankan, melalui peningkatan besaran insentif bagi bank yang lebih cepat menurunkan suku bunga kredit," ujar Perry.
Secara terperinci, total insentif tersebut ditujukan kepada kelompok bank BUMN sebesar Rp182,9 triliun, BUSN sebesar Rp174,7 triliun, BPD sebesar Rp33,1 triliun, dan KCBA sebesar Rp7,2 triliun.
(lav)



























