Misbakhun lantas memaparkan sejumlah indikator fundamental ekonomi yang dinilai solid, mulai dari pertumbuhan ekonomi yang stabil di kisaran 4,8%-5% secara tahunan, inflasi yang rendah, cadangan devisa yang kuat, hingga kondisi neraca perdagangan dan transaksi berjalan yang positif.
Meski demikian, Misbakhun mengakui pasar masih dipengaruhi oleh sentimen.
Dengan demikian, dia menilai perlu adanya penguatan komunikasi kepada pelaku pasar bahwa Indonesia memiliki prospek ekonomi yang baik dan layak menjadi tujuan investasi, baik untuk penanaman modal langsung maupun investasi portofolio.
Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjelaskan, dari sisi faktor domestik, pelemahan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh aliran modal asing yang keluar dari pasar keuangan Indonesia karena adanya kebutuhan valuta asing (valas) yang besar dari sejumlah korporasi nasional.
"Ada kebutuhan valas yang besar dari sejumlah korporasi, terutama Pertamina, PLN dan Danantara," kata Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur BI Edisi Januari 2026.
Perry mengungkapkan pelemahan nilai tukar rupiah juga disebabkan oleh adanya persepsi pasar terhadap kondisi fiskal, termasuk salah satunya terkait kabar soal proses pencalonan Deputi Gubernur Bank Indonesia yang beredar belakangan ini.
"Maka kami tegaskan lagi bahwa proses pencalonan Deputi Gubernur BI sudah sesuai undang-undang dan tata kelola, serta tidak mempengaruhi pelaksanaan tugas kewenangan BI yang tetap profesional dengan tata kelola yang kuat," papar Perry.
Dari sisi global, lanjut dia, pelemahan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh kondisi geopolitik global, serta kebijakan tarif perdagangan internasional AS.
"Selain itu, tingginya imbal hasil obligasi AS atau yield US Treasury tenor 2 tahun dan 3 tahun, juga lebih rendahnya Fed Fund Rate (FFR) turun lebih kecil," kata dia.
Menurut dia, situasi tersebut menyebabkan dolar AS menguat dan terjadi aliran modal keluar dari negara berkembang seperti Indonesia, ke negara maju, terutama AS.
Thomas Jadi Deputi BI
Sebelumnya, sumber Bloomberg Technoz menyebut Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono akan menjadi pengganti Juda Agung yang telah mengundurkan diri dari Deputi Gubernur BI.
Sementara itu, Juda Agung berpotensi menggantikan Thomas di Kementerian Keuangan.
Misbakhun telah menerima Surat Presiden (Surpres) pengajuan sejumlah nama calon kandidat yang menggantikan Juda.
Ketiga kandidat tersebut yakni Thomas Djiwandono, Dicky Kartikoyono, dan juga Solikin M. Juhro. Usai menerima surat itu, DPR kemudian akan menindaklanjuti proses fit and proper test.
"Surpres sudah [kami terima]. Kemudian Komisi XI ditugaskan untuk melakukan fit and proper test, dan saya sudah minta kepada sekretariat untuk mengatur jadwal," ujar Misbakhun. "Pokoknya minggu ini."
(prc/naw)





























