Logo Bloomberg Technoz

ESDM Cuma Restui 30% RAKB 2026, Proyek Smelter Nikel Vale Aman?

Azura Yumna Ramadani Purnama
21 January 2026 12:50

Vale Indonesia. (Dimas Ardian/Bloomberg)
Vale Indonesia. (Dimas Ardian/Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta – Pakar industri minerba memprediksi pengembangan proyek PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) bakal tersendat jika target produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 hanya diberikan 30% dari permintaan.

Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Sudirman Widhy Hartono berpendapat target produksi sebesar 30% tersebut—jika sampai diputuskan final untuk sepanjang tahun ini— akan memengaruhi rencana pembangunan smelter hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL) Vale di Pomalaa dan Bahodopi.

Dia mengungkapkan proyek smelter Pomalaa membutuhkan suplai sekitar 21 juta ton bijih nikel kadar rendah atau limonit, sementara proyek Bahodopi membutuhkan sekitar 10,4 juta ton limonit.


“Menurut kami memang akan sangat memengaruhi kelanjutan rencana pengembangan proyek hilirisasi nikel yang saat ini sedang dilakukan oleh Vale,” kata Sudirman ketika dihubungi, Rabu (21/1/2026).

“Seperti kita ketahui bersama, Vale saat ini sedang mengembangkan 2 proyek hilirisasi untuk nikel limonit; yaitu proyek pembangunan HPAL di Pomalaa dan Morowali yang dijadwalkan rampung secara mekanis pada 2026, dan diharapkan mulai berproduksi,” lanjut dia.

Ruang kendali Pembangkit Listrik Tenaga Air Balambano, PT Vale Indonesia di Sorowako, Sulawesi Selatan, Sabtu (11/6/2022). (Dimas Ardian/Bloomberg)