Logo Bloomberg Technoz

Jika ini terjadi, pergerakannya mirip saat April tahun lalu dimana Trump gencar mengaktifkan tarif impor ke negara-negara mitra perdagangan. Saat itu pasar ekuitas terguncang, diikuti dengan Bitcoin yang anjlok ke kisaran US$75.000.

Pergerakan hanya akan kembali ke US$93.000 jika pasar mempertahankan struktur breakout mingguan, berdasarkan catatan Rekt Capital. Sebagai catatan, mengawali tahun Bitcoin berada di level US$87.000, lebih rendah dibandingkan data 2025 yang masih berada di US$93.500.

“Bitcoin perlu menemukan cara untuk kembali ke level US$93.500 sepanjang minggu ini guna mengonfirmasi ini sebagai pengujian kembali yang sukses,” jelas pelaku pasar Daan Crypto Trades.

Perang dagang antara negara-negara di Eropa dan AS memanas, imbas isu aneksasi Greenland seperti keinginan Donald Trump, menyulut pergerakan harga. Faktor makroekonomi tidak terlampau jadi pemicu, menurut pandangan beberapa analis.

Keith Alan, salah satu pendiri Material Indicators, menggambarkan kondisi pemelahan meski mendapatkan supportnya pada kisaran US$90.500. Secara teknikal ia memperkirakan pergerakan harga akan diuji pada level US$87.500 seraya menunggu uji resistensi di 50-Week MA.

“Bitcoin menemukan dukungan di MA 200, dan dukungan lain di MA 21 berada di dekatnya. Integrasi antara dua MA memperkuat dukungan teknis di rentang ini, tetapi fakta bahwa MA 50/100 (periode 3hari) dan MA 21/200 baru saja membentuk Death Cross, ditambah dengan fakta bahwa bulls kehilangan dukungan di level Timescape 2026-01-05, membuat grafik ini sangat bearish bagi saya.”

Analisis teknikal pergerakan satu tahun terakhir Bitcoin dan potensi bearish harga. (Dok: Keith Alan @KAProductions)

Pelaku pasar diprediksi tengah eksodus, menjauh dari aset berisiko dan beralih menuju kelas aset lebih aman, akibat ancaman tarif dari Gedung Putih dengan sasaran baru AS kali ini adalah Eropa. Benua Biru tersebut secara tegas memberi perlawanan atas rencana Trump mengambil alih Greenland, kata Shiliang Tang, dari Monarq Asset Management, dilaporkan Bloomberg News.

Pelemahan harga Bitcoin pada 21 Januari 2026. Tensi geopolitik memanas antara Amerika dan Eropa. Dok: Bloomberg

Skenario Terburuk Bitcoin

Analis dan pendiri Crypto Banter.co, Raun Neuner, memberi gambaran peluang terburuk bagi Bitcoin di tengah kondisi pasar kripto yang masih kesulitan untuk mendapatkan momentum. Menurut dia, secara Bitcoin bisa anjlok 70-80% setelah melewati level puncak.

Dengan acuan tersebut potensi penurunan BTC diproyeksi akan mencapai  sekitar US$37.000 dalam skenario pasar bearish penuh. Untuk diketahui Bitcoin telah mencapai US$125.000 pada bulan Oktober tahun lalu. Catatan lain, secara historis pasar bullish Bitcoin cenderung mencapai puncaknya sekitar 532 hari setelah setiap peristiwa halving.

"Dalam setiap siklus penuh, Bitcoin mengikuti pola yang sama: puncak, lalu penurunan 70 hingga 80%," tulis Neuner dalam unggahan di media sosial X, dikutip Rabu.

Grafik pergerakan harga Bitcoin, mengacu pada tren 532 hari pasca halving Bitcoin mengarah ke posisi bullish. Dok: TradingView

(wep)

No more pages